Provinsi Pasundan - Bagian II
Gambar hanya ilustrasi.-Ist-
*Oleh: Fathan Mubarak
RADARCIREBON.COM - 14 Februari 1989. Satu tahun setelah The Satanic Verses terbit, Salman Rushdie mendapat kado valentine dari pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ruhullah Khameini, berupa fatwa mati.
Khameini menyerukan juga pembunuhan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam penerbitan novel tersebut.
Salman Rushdie pun hidup dalam persembunyian dan perlindungan ketat. Dan dunia menyaksikan sebuah novel berubah menjadi badai yang merambat dari halaman buku ke jalanan kota-kota di dunia.
Saat itu dunia Islam masih dilanda euforia revolusi Iran 1979 yang kerap disebut revolusi Islam.
BACA JUGA:Provinsi Pasundan Bagian I
BACA JUGA:Kebutuhan Air Kereta Api Mencapai 240.000 liter
Isu syiah-sunni belum setajam sekarang. Mungkin karena itu fatwa Khameini mudah menjalar di banyak negara Timur Tengah, Asia, juga Afrika.
Demonstrasi di Islamabad dan Srinagar bahkan menelan korban jiwa. Di Inggris sendiri, tempat Rushdie tinggal, demonstrasi dan aksi pembakaran buku berlangsung di beberapa kota.
Indonesia termasuk yang mengeluarkan larangan novel tersebut.
Berikutnya kita dapati seruan Khameini berubah menjadi sesuatu yang mirip amalan. Hitoshi Igarashi, penerjemah The Satanic Verses ke dalam bahasa Jepang, tewas ditikam pada 1991.
BACA JUGA:Walikota dan Kapolres Baru Tinjau Proyek Sukalila, Target Segmen 1 Rampung Akhir 2026
Penerjemah Italia Ettore Capriolo, diserang pada tahun yang sama. Sedang penerbit Norwegia William Nygaard, ditembak pada 1993.
Khameini membuat novel Salman Rushdie malampaui dunia sastra dan menjadikannya salah satu buku paling kontroversial dalam sejarah penerbitan modern.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

