Daya Motor

Provinsi Pasundan - Bagian II

Provinsi Pasundan - Bagian II

Gambar hanya ilustrasi.-Ist-

Ketegangan berbeda dialami Saladin Chamcha. Ia menolak disebut India. Dengan tinggal di Inggris, bekerja sebagai aktor suara dengan aksen UK yang sempurna, dan berusaha menjauh dari asal-usul India, Saladin merasa telah menjadi “Inggris” sejati.

Namun setelah kecelakaan pesawat dan mengalami perubahan fisik menyerupai iblis, Saladin ditangkap polisi Inggris dan diperlakukan sebagai makhluk asing.

Saladin seketika menjadi ironi identitas: seseorang yang telah berusaha sedemikian jauh berasimilasi justru dikembalikan secara paksa sebagai “yang lain”.

Identitas yang selama ini ingin dibangun dikhianati tubuhnya sendiri. Sebaliknya, ketika pulang ke Bombay, Saladin telah berubah terlalu jauh untuk sepenuhnya kembali menjadi orang India. 

Demikianlah. Di wilayah yang oleh Homi Bhabha disebut third space, seseorang tidak bisa lagi membuat pilihan untuk menjadi salah satu secara utuh.

Bahasa, ingatan, sejarah, dan kebudayaan dari tempat asal, menyerupai pori-pori yang menyerap pengalaman dari tempat baru yang dihuninya.

Ia senantiasa tumbuh dan matang dalam sebuah perjalanan ulang-alik. Stuart Hall menuliskannya dengan bagus dalam esai Cultural Identity and Diaspora.

Ia memandang identitas bukan sebagai batu yang diletakkan sekali untuk selamanya. Identitas memang memiliki akar.

Namun orang akan terus berhadapan dengan perubahan, migrasi, asimilasi, kolonialisme, dan dunia-dunia baru yang datang membawa bahasa serta pengalaman berbeda.

Identitas, demikian Hall, lebih tepat dipahami sebagai sebuah perjalanan becoming daripada keadaan being yang telah selesai.

Jika Stuart Hall membantu memahami identitas sebagai proses becoming, dan Homi Bhabha memperlihatkan third space sebagai ruang tempat identitas dinegosiasikan, maka Victor Turner melengkapi keduanya melalui gagasan liminality.

The Ritual Process yang dipublikasi pada 1969 menjelaskan liminalitas sebagai keadaan “ambang”: seseorang telah meninggalkan identitas lamanya, tetapi tidak sepenuhnya memasuki identitas baru.

Gibreel dan Saladin hidup dalam keadaan semacam itu, berada di antara asal-usul dan pengalaman baru itu. Hingga identitas mereka terus berubah dan dipersoalkan.

Saya dan Kang Alwy tidak begitu tertarik dengan Khameini yang melabeli Novel Salman Rushdie sebagai penistaan agama. Ketegangan identitas yang diketengahkan tampak lebih menggiurkan.

Mungkin karena kami sama-sama lahir di Cirebon, lalu merantau ke Jogja, dan kembali ke kota kelahiran dengan cara menatap yang sudah berbeda.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait