Provinsi Pasundan - Bagian IV
Keraton Kanoman Cirebon.-Yuda Sanjaya-Radarcirebon.com
Sulit memperlakukan Cirebon sebagai garis lurus dari masa lalu menuju identitas yang sekarang.
Kekhasannya terbuat dari tumpukan-tumpukan pengalaman yang terus ditafsirkan ulang oleh orang-orang yang hidup di dalamnya.
BACA JUGA:Bermasalah Sejak 2024, Oknum Sekuriti RSD Gunung Jati Diberhentikan Secara Tidak Hormat
BACA JUGA:Viral Koperasi Desa di Tengah Hutan Gunung Ciremai, Kuwu Cikaracak Bongkar Fakta Sebenarnya
Kekhasan Cirebon tidak semata-mata dinisbahkan pada keberadaan keraton, bahasa, ritus, atau tradisi seni, melainkan pada keseluruhan pengalaman sejarah yang membentuknya.
Merujuk pada kajian geografi humanistik, terutama konsep topophilia, kekhasan tersebut mencakup juga bagaimana manusia membangun keterikatannya dengan sebuah tempat—bahkan dengan apa yang dalam diskursus fenomenologi disebut lebenswelt: ruang hidup.
Saya orang yang tidak begitu percaya dengan gagasan melting pot yang pada awal 2000-an mulai dikampanyekan budayawan Nurdin M. Noer.
Konsep yang populer sejak pementasan drama Israel Zangwill ini merujuk pada percampuran berbagai unsur kebudayaan yang datang dari latar berbeda.
Sesekali Cirebon memang serupa itu. Tapi Cirebon juga sekaligus mirip apa yang dalam konsep bandingannya disebut salad bowl: berbagai unsur budaya bertemu, saling bersentuhan, tetapi tidak kehilangan seluruh pembedanya.
Sebaran toponimi di Cirebon menjadi indikator bagus: Pekalangan untuk orang-orang Kalang, Pecinan untuk orang-orang Cina, Panjunan untuk orang-orang Arab, Pekiringan untuk para perajin tembaga, dan seterusnya dan seterusnya.
Cirebon bukan hasil dari satu proses peleburan yang selesai. Cirebon lebih tepat dibaca sebagai sebuah proses dimana percampuran dan perbedaan terus bekerja bersamaan.
Hampir mustahil menemukan aktor tunggal yang sepenuhnya menentukan arah perkembangan kebudayaan di Cirebon.
Tidak ada yang bergerak sendirian. Bahkan di sekitar Sunan Gunung Jati terdapat jejaring kekuasaan, keluarga, ulama, saudagar, pelabuhan, keraton, dan masyarakat yang ikut membentuk Cirebon. Keruwetan relasional itulah yang membuat Cirebon menjadi Cirebon.
Paul Ricoeur membantu melihat persoalan dari sisi lain. Filsuf yang pernah menjadi tahanan perang pada PD II ini menunjukkan bahwa ingatan terus bekerja dalam cara manusia memahami diri dan dunia yang ditempatinya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

