Nasaruddin Umar dan Amanah yang Lebih Besar
Menteri Agama Nasaruddin Umar.-disway.id-
Ia menjadi salah satu simbol bahwa keimanan yang kuat tidak harus melahirkan eksklusivisme.
Justru sebaliknya. Keimanan dapat menjadi dasar bagi lahirnya penghormatan terhadap sesama manusia.
Karena itu, Nasaruddin Umar bukan sekadar milik satu kelompok. Kapasitasnya telah berkembang menjadi aset bangsa.
Hal lain yang membuat posisinya semakin relevan adalah gagasannya mengenai ekoteologi. Nasaruddin Umar dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam pengembangan pemikiran ekoteologi di Indonesia.
Konsep ini menempatkan hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Pengelolaan sumber daya alam tidak boleh hanya didasarkan pada kepentingan ekonomi. Alam bukan sekadar objek eksploitasi.
Di dalamnya terdapat tanggung jawab moral dan spiritual manusia sebagai khalifah di bumi.
Pandangan semacam ini menjadi semakin penting ketika Indonesia menghadapi berbagai persoalan lingkungan.
Deforestasi, pencemaran, krisis iklim, eksploitasi sumber daya alam, hingga konflik agraria tidak cukup diselesaikan hanya dengan pendekatan hukum dan ekonomi.
Dibutuhkan kesadaran baru.
Kesadaran bahwa merusak alam pada hakikatnya juga merupakan persoalan moral.
Di titik inilah Nasaruddin Umar memiliki posisi yang unik. Ia mampu mempertemukan agama, lingkungan, ekonomi, dan kemanusiaan dalam satu kerangka pemikiran.
Jika kemudian ia memilih masuk dalam kontestasi Ketua Umum PBNU, tidak sedikit yang khawatir ruang pengabdiannya justru menjadi lebih sempit.
Menjadi Ketua Umum PBNU tentu merupakan amanah yang sangat besar. Juga terbilang prestisius. Tetapi jabatan itu, bagaimanapun, tetap berada dalam struktur satu organisasi.
Sementara Nasaruddin Umar hari ini memiliki kapasitas untuk berdiri di atas lebih banyak ruang.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

