Daya Motor

Saya Tidak Lulus SMA (Seri 3)

Saya Tidak Lulus SMA (Seri 3)

Tak punya ijazah SMA bukan akhir perjalanan Azrul Ananda. Di usia 17 tahun, ia hidup sendiri di Amerika hingga akhirnya bisa kuliah.-Dok. Pribadi-

Waktu saya pulang, status saya tidak jelas. Kalau masuk SMA di Indonesia, saya harus mengulang lagi dari kelas 10. Itu berarti ketinggalan setahun dari teman-teman SMP saya dulu.

Banyak teman-teman pertukaran pelajar yang mau tak mau harus menjalani itu. Mengulang lagi pelajaran setahun di Indonesia. Rugi? Tergantung sudut pandang.

BACA JUGA:Yamaha Factory Visit, Fasilitasi Media & Pelaku Industri Untuk Melihat Proses Produksi Berstandar Global

Mungkin ada yang bilang rugi nambah SMA setahun. Tapi menurut saya pribadi, pengalaman setahun jadi siswa pertukaran di tempat-tempat "ajaib" adalah pengalaman tak ternilai dan tak tergantikan.

Bukan hanya anak Indonesia. Anak pertukaran dari negara lain juga harus mengulang kelas ketika kembali ke negaranya. Salah satunya teman saya dari Jepang, Minoru.

Waktu masa orientasi bersama di dekat Seattle, dia mengaku sudah siap dengan konsekuensi itu. Dia menyebut petualangan setahun sebagai exchange student bukanlah kendala. Dia bilang, "Kalau kita diberi hidup 80 tahun, ini hanyalah satu tahun". 

Saya sendiri sebenarnya pasrah saja kalau harus memulai lagi SMA dari kelas 10 di Indonesia. Tapi Abah saya benar-benar bertekad bahwa saya tidak boleh di Indonesia. Keluarga kami masih belum aman.

Harus cari cara. Entah bagaimana.

Keluarga kami memang tidak hidup susah. Kerja keras Abah membuat keluarga kami makin tahun makin mampu. Tapi waktu itu masih jauh dari kaya raya. Saya harus berangkat lagi ke Amerika, cari sekolah lagi entah bagaimana caranya.

Ada kenalan Abah yang anaknya sekolah di Sacramento, ibu kota California. Jadi saya disuruh berangkat ke sana. Di usia 17 tahun, tanpa bantuan siapa-siapa, saya harus cari sekolah.

Anak kenalan Abah itu hanya menjemput saya dari bandara, membantu menemukan apartemen, setelah itu tidak pernah kelihatan lagi. Wkwkwkwk...

Saya tinggal di apartemen sendirian. Apartemen kosong melompong. Hanya ada matras kasur tanpa sprei. Seminggu kemudian baru saya beli sebuah TV kecil. Belum ada internet, belum ada handphone.

Menelepon ke Indonesia mahal luar biasa. Karena belum punya teman, saya sering sekali ngobrol dengan diri sendiri, wkwkwk...

Saya datang ke departemen pendidikan di Sacramento, minta arahan harus bagaimana untuk melanjutkan sekolah. Tentu saja jawabannya sulit.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: