Saya Tidak Lulus SMA (Seri 3)
Tak punya ijazah SMA bukan akhir perjalanan Azrul Ananda. Di usia 17 tahun, ia hidup sendiri di Amerika hingga akhirnya bisa kuliah.-Dok. Pribadi-
Saya bukan penduduk California, apalagi warga negara, dan tidak punya orang tua atau wali di sana. Jadi saya tidak akan bisa menikmati fasilitas SMA gratis di sekolah negeri (public school).
Saya juga tidak berhasil menemukan SMA swasta yang mau menerima siswa internasional. Apalagi saya juga masih usia 17 tahun, tanpa wali dan orang tua.
Sekali lagi, waktu itu belum ada internet. Cari sekolah harus lewat informasi manual, dan harus datangi satu-satu.
Tapi ini hebatnya departemen pendidikan di Sacramento itu. Mereka tidak membiarkan saya begitu saja. Mereka mencarikan jalan keluar.
Karena ada kebijakan di sana, anak tidak boleh kehilangan hak mendapatkan pendidikan. Walau saya bukan warga negara, mereka tetap menggunakan prinsip itu untuk membantu sebisa mungkin.
Melihat nilai saya waktu di Kansas bagus, mereka meminta saya mengambil tes assessment lagi. Kali ini tingkat universitas. Ternyata saya lolos lagi.
Dianggap sudah layak kuliah! Kemampuan bahasa Inggris saya juga dianggap sudah cukup (saya sangat terima kasih kepada seluruh ajaran John dan keluarga, serta semua guru dan teman-teman di Ellinwood!).
Muncul gagasan supaya saya tidak usah SMA lagi. Langsung kuliah saja. Dan institusi perguruan tinggi akan lebih mudah mengeluarkan visa untuk siswa internasional.
Kuliah bukan berarti langsung ke university empat tahun. Saya disarankan masuk junior college (juco, baca: juko) dulu, alias kampus dua tahun.
Di sana salah satunya ada Sacramento City College. Syarat masuknya lebih mudah, biayanya terjangkau, dan bisa menjadi jembatan saya sebelum kuliah di universitas yang proper.
Secara timing kata mereka juga pas. Waktu itu sudah makin dekat dengan akhir tahun. Kalau mau masuk SMA, andai ada, sudah tidak mungkin.
Kalau saya mau menunggu sampai tahun ajaran berikutnya (pertengahan 1995), saya dengan mudah bisa masuk juco.
Karena saat momen itu tiba, saya sudah akan berusia 18 tahun. Dan juco tidak boleh menolak saya lagi, walau saya tidak pernah lulus SMA.
Sambil menunggu, saya disarankan sekolah bahasa Inggris dulu beberapa bulan.
Selain untuk mendapatkan visa pelajar agar bisa tetap di sana, juga untuk semakin mematangkan kemampuan bahasa Inggris saya, agar benar-benar siap untuk tingkat pendidikan tinggi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

