Saya Tidak Lulus SMA (Seri 3)
Tak punya ijazah SMA bukan akhir perjalanan Azrul Ananda. Di usia 17 tahun, ia hidup sendiri di Amerika hingga akhirnya bisa kuliah.-Dok. Pribadi-
Di level junior college, jurusannya masih umum tanpa konsentrasi khusus. Karena selama dua tahun, saya juga harus menjalani syarat-syarat pelajaran umum yang belum pernah saya dapatkan waktu SMA.
Saya harus ambil lagi kelas-kelas sains, beberapa tingkatan Matematika, dan pelajaran-pelajaran umum lain.
Usia saya juga sudah 18 tahun.
Secara legal sudah dianggap orang dewasa.
Bisa mengurus SIM dan beli mobil sendiri tanpa orang tua atau wali. Waktu itu mampunya beli Honda Civic Hatchback keluaran 1991, dengan transmisi manual dan tanpa power steering. Harga USD 5.000. Kurs tahun 1995 itu, kalau dirupiahkan, hanya Rp 12 jutaan.
Mobil itulah yang sehari-hari mengantarkan saya menjalani pendidikan di jalur yang "normal", di jalur yang kembali jelas arahnya.
Tidak punya ijazah SMA sudah bukan lagi masalah. Tidak punya ijazah SMA sudah tidak lagi relevan untuk masa depan saya. Karena saya sudah di jalur resmi untuk mengejar ijazah perguruan tinggi.
Dua tahun saya penuhi di Sacramento City College. Terima kasih Tuhan, saya menjalaninya dengan sangat baik. Nilai saya juga terbilang sangat baik, dengan GPA akhir 3.81 dari maksimal 4.00.
Saya sudah mengincar mendaftar di kampus-kampus idaman. Saya juga sudah mengambil ulang tes TOEFL untuk memastikan bisa masuk universitas sebaik mungkin. Lumayan, nilai TOEFL saya melonjak ke 630.
Di atas kertas, saya bisa ke universitas mana saja.
Tapi waktu itu 1997.
Krisis moneter. Dollar melompat begitu tinggi. Dari Rp 3.200 hingga tembus Rp 17 ribu. Mimpi kuliah lanjutan kembali menghadapi ancaman... (azrul ananda/bersambung)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

