Macan Lodaya Prabu Siliwangi, Tunduk karena Kalah Tanding di Curug Sawer Majalengka

Macan Lodaya Prabu Siliwangi, Tunduk karena Kalah Tanding di Curug Sawer Majalengka

Macan Lodaya yang kerap diidentikan dengan Prabu Siliwangi. -Ist/tangkapan layar-radarcirebon.com

Radarcirebon.com, CIREBON - Macan Lodaya sangat identik dengan Prabu Siliwangi. Sosok hewan yang setia dan disebutkan sebagai pelindung atau khodam sampai ke 7 turunan.

Macan Lodaya memang identik dengan Prabu Siliwangi. Dalam kisahnya, bahwa perjumpaan tersebut terjadi di Curug Sawer, Kabupaten Majalengka.

Prabu Siliwangi yang masih muda diriwayatkan berjumpa dengan Macan Lodaya atau urang Sunda menyebutnya Maung Lodaya atau hanya disebut Lodaya saja.

Perjumlaah Prabu Siliwangi dengan mahluk tersebut, terjadi di Curug Sawer, Kabupaten Majalengka. Waktu itu, usianya masih sangat muda dan gemar berkelana keluar masuk hutan.

BACA JUGA:Ridwan Kamil Serahkan Bantuan untuk Pembangunan Sarana Prasarana Pendidikan di Bogor dan Depok

BACA JUGA:Kembali Bikin Bangga SMAN 1 Ciwaringin, Amel Raih 2 Medali di Bandung

Awalnya, perjumpaan itu berujung pada pertempuran. Namun, pada akhirnya pasukan macan tersebut dapat ditaklukan. Sehingga menjadi pendamping Prabu Siliwangi sekaligus sebagai pusaka.

Kendati disebut macan, namun sesungguhnya Lodaya yang dimaksud sebagai pendamping Prabu Siliwangi adalah khodam harimau. Bukannya macan.

Versi lain mengapa Prabu Siliwangi dikaitkan dengan macan Lodaya, tidak lepas dadi Uga Wangsit Siliwangi yang menyebutkan terjadi moksa dan beralih rupa menjadi maung bodas.

Di masyarakat Sunda hingga kiwari, kepercayaan dan keterkaitan antara Prabu Siliwangi dan harimau masih dipercaya.

BACA JUGA:7 Cara Ampuh Menghilangkan Bekas 'Cupang' Setelah Berhubungan dengan si Dia

BACA JUGA:BRI Kembali Buka Program Management Trainee, BRILiaN Future Leader Program

Bahkan di kawasan hutan Kecamatan Subang, Kabupaten Kuningan, dipercaya masih ada harimau yang bukan hewan tetapi mahluk gaib dan dikaitkan dengan Prabu Siliwangi.

Harimau yang dikaitkan dengan Prabu Siliwangi saat ini sebenarnya sudah punah atau dikenal dengan Harimau Jawa.

Karenanya, meski sebagian orang meyakini Harimau Jawa masih ada, namun masyarakat yang tinggal di sekitar hutan, khususnya di Subang meyakini itu adalah mahluk gaib.

Harimau menjadi simbol dari Prabu Siliwangi karena diyakini memiliki khodam, juga beralih rupa saat moksa.

BACA JUGA:New Honda Vario 125 Sapa Warga Cirebon dengan Beragam Aktivitas dan Program Menarik

Kepercayaan ini, juga dikaitkan Wangsit Siliwangi yang dikenal sebagai pernyataan terakhir Sri Baduga Maharaja kepada pengikutnya sebelum ngahyang, dan Pajajaran berakhir.

Wangsit Siliwangi juga menjadi awal mula munculnya persepsi yang mengaitkan dengan  Harimau Jawa atau dalam bahasa Sunda disebut Maung.

Dalam legenda disebutkan sebelum benar-benar menghilang, Prabu Siliwangi meninggalkan pesan atau amanat kepada para pengikutnya.

Amanat yang dikenal dengan Uga Wangsit Siliwangi ini, di antaranya, memuat pesan Siliwangi tentang masa depan wacana Pajajaran di masa depan:

BACA JUGA:Kajian Milenial Cirebon Peringati Milad Pertama, Undang Roger Danuarta dan Cut Meyriska

Ti mimiti poé ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit nagarana. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti anu kari, bakal réa nu malungkir!"

"Tapi engké jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya anu laleungit kapanggih deui. Nya bisa, ngan mapayna kudu maké amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu-aing pang pinterna. Mudu arédan heula.

“Dari mulai hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak!"

"Tapi suatu saat akan ada yang akan mencoba, supaya yang hilang bisa ditemukan kembali. Bisa saja, tapi menelusurinya harus memakai dasar. Tapi sayangnya yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong. Dan bahkan berlebihan kalau bicara.” (Perjalanan Spiritual Menelisik Jejak Satrio Piningit, hal. 16).

BACA JUGA:10 Kalimat Thayyibah dan Keutamannya, Serta Makna dan Waktu yang Baik untuk Mengucapkan

Setelah menyampaikan pesan, Prabu Siliwangi kemudian nga-hyang. Salah satu bunyi wangsit yang populer di kalangan masyarakat Sunda.

Lamun aing geus euweuh marengan sira, tuh deuleu tingkah polah maung (kalau aku sudah tidak menemanimu, lihat saja tingkah laku harimau."

Inilah yang kemudian menjadi dasar dan keyakinan bahwa Prabu Siliwangi telah bersalin rupa menjadi harimau.

Sebagian pendapat menerangkan harimau di sini tidak bermakna harfiah, melainkan lebih merujuk karakter harimau yang diidentifikasi sebagai pemberani dan menyayangi keluarga.

BACA JUGA:Target Tol Cisumdawu Beroperasi Bulan Depan, Cirebon-Bandung Lebih Cepat

Poin kedua dari karakter itu, yaitu menyayangi keluarga, dikaitkan dengan pilihan Prabu Siliwangi yang konon memutuskan untuk mundur dan tidak meladeni pasukan Islam.

Pasalnya, dia menghindari pertumpahan darah. Mengingat pertempuran itu, salah satunya dipimpin Kian Santang, salah satu keturunan Prabu Siliwangi.

Jayadewata atau Sri Baduga Maharaja, yang diidentikkan dengan Prabu Siliwangi, pun sesungguhnya bukanlah raja terkahir dari Pakuan Pajajaran.

Masih ada lima raja lagi setelahnya yaitu: Prabu Surawisesa (1521-1535), Ratu Dewata (1535-1543), Ratu Sakti (1543-1551), Nilakendra Tohaan di Majaya (1551-1567).

BACA JUGA:Jepang ada di Grup Neraka Piala Dunia Qatar 2022, Persaingan Tiga Benua

Kemudian Ragamulya Suryakancana sebagai raja terakhir ketika pengaruh Islam mulai masuk dan meruntuhkan kerajaan tersebut pada 1579.

Demikian kisah Prabu Siliwangi seringkali dikaitkan dengan maung atau macan lodaya yang diduga merujuk pada Harimau Jawa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: