Ok
Daya Motor

Limbah Dapur MBG, Peluang Emas untuk Kemandirian Pangan Cirebon

Limbah Dapur MBG, Peluang Emas untuk Kemandirian Pangan Cirebon

Sekretaris Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Cirebon R Cakra Suseno SH menilai, keberadaan MBG membuka peluang ekonomi baru, kemarin.-Samsul Huda-radarcirebon

CIREBON, RADARCIREBON.COM -Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyimpan peluang besar yang belum banyak dilirik. Yakni, pengelolaan limbah dapur.

Sekretaris Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Cirebon, R Cakra Suseno SH menilai, keberadaan dapur MBG yang tersebar masif melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sejatinya bukan hanya soal penyediaan makanan bergizi, tetapi juga membuka potensi ekonomi baru dari sisa olahan bahan makanannya.

“Setiap dapur MBG pasti menghasilkan limbah, terutama limbah organik. Nah, ini jangan dilihat sebagai masalah, tapi sebagai peluang. Terutama bagi sektor pertanian,” ujar Cakra, Kamis (16/10).

Menurutnya, jika dikelola dengan baik sesuai standar operasional (SOP), limbah dapur bisa diolah menjadi produk bernilai tambah, seperti pupuk kompos, pakan ternak, hingga media budi daya maggot.

BACA JUGA:Pemprov Jabar Dukung MBG, Wagub: Wujud Nyata Pemerintah Tingkatkan Kualitas SDM

“Di beberapa daerah, limbah dapur sudah dimanfaatkan untuk maggot, dan hasilnya bisa jadi pakan ternak. Ini bisa diterapkan juga di Cirebon,” kata Cakra yang juga Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Cirebon itu.

Cakra menegaskan, keberadaan dapur MBG seharusnya memberi efek domino terhadap sektor lain, terutama pertanian dan peternakan.

Ia menyoroti bahwa hingga kini, kebutuhan daging sapi di Kabupaten Cirebon masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.

“Sebelum MBG berjalan saja, konsumsi daging sapi di Cirebon mencapai sekitar 20 ekor per hari. Itu belum termasuk daging ayam. Artinya, kita masih sangat tergantung pada pasokan luar,” ungkapnya.

BACA JUGA:Pastikan Kualitas Makanan Bisa Dikonsumsi, Babinsa Kalijaga Monitoring Program MBG

Dengan adanya program MBG, lanjut Cakra, semestinya Kabupaten Cirebon bisa bertransformasi menjadi produsen, bukan sekadar konsumen.

Pengelolaan limbah dapur menjadi salah satu pintu masuk menuju kemandirian pangan dan ternak lokal.

“Kita harus mulai berpikir sebagai produsen. Minimal, jadi pemasok untuk kebutuhan sendiri,” tegasnya.

Ia pun mendorong kolaborasi lintas sektor, terutama Dinas Pertanian dan Dinas Peternakan, untuk memanfaatkan potensi limbah dapur agar tidak terbuang sia-sia.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait