Rumah Kertas, Hidupkan Sastra di Tengah Geliat Kemajuan Kota

Rumah Kertas, Hidupkan Sastra di Tengah Geliat Kemajuan Kota

Acaranya sederhana. Tak ada yang mewah. Tapi, semangat Rumah Kertas menghidupkan nafas sastra di Cirebon tidak cukup dibilang sederhana. Laporan: MIKE DWI SETIAWATI, Cirebon DARI kampus ke kampus, kafe ke kafe, sekolah, halaman perkantoran, bahkan trotoar jalan. Keterbatasan tidak membuat komunitas Rumah Kertas untuk tetap ”hidup”. Menghidupkan sastra di tengah kerungsingan dan geliat Kota Cirebon menuju kota tujuan wisata. Dikala semua orang berlomba meraup keuntungan dari berbagai bidang seperti ekonomi, sosial, bisnis, kuliner, hingga wisata, Rumah Kertas ngotot untuk bertahan dan menggaungkan semangat bersastra. Salah satu upayanya adalah dengan menggelar Malam Puisi di sejumlah tempat. Belum lama ini, Rumah Kertas menggelar Malam Puisi #17: Mengenang Penyair Chairil Anwar di Aula RRI Cirebon. Peringatan Malam Puisi mengenang Chairil Anwar sebenarnya merujuk pada hari wafatnya yang jatuh pada 28 April. Acara Malam Puisi #17 Rumah Kertas dihadiri para apresiator dari berbagai komunitas dan kalangan. Dibuka dengan sesi diskusi tentang Chairil Anwar dan karya-karyanya. Hadir juga sosok Ali Bustomi, aktor berkepala plontos yang populer lewat film Para Pencari Tuhan ikut membacakan beberapa puisi Chairil Anwar dengan gaya kocaknya. Rumah Kertas menganggap bahwa sastra menjadi penting di tengah kehidupan kota yang kian praktis dan materialis. Mereka percaya, sastra akan membantu mengolah rasa, mengasah jiwa, mematangkan pikiran, mengukuhkan mental baik personal maupun komunal. Di kota yang bersikeras ingin disebut sebagai Kota Wali ini orang beramai-ramai mengingkari ruang-ruang mental dan spiritual. \"Orang bergerak ke sana ke mari dalam arus besar yang semuanya bermuara pada tubuh belaka,\" tutur Fathan Mubarak, salah satu pendiri dan pegiat komunitas Rumah Kertas. Bagi pendiri rumah kertas, hidupnya sastra merupakan tanggung jawab bersama. Sastra bukan saja berarti bagi diri sendiri, tetapi juga orang lain. Ada pesan yang ingin disampaikan para pegiat sastra pada khalayak. Namun, hingga kini jarang ada ruang yang dapat dinikmati semua kalangan. Oleh karenanya, ia dan para pegiat di Rumah Kertas sejak 2012 hingga saat ini berusaha untuk tetap berperan menghidupkan sastra di Cirebon meski dengan keterbatasan. Ditambahkannya, jika sastra berorientasi pada ekonomi, itu sama saja menghilangkan ruh sastra. Sastra akhirnya menjadi semacam komoditas yang mesti mengikuti kebutuhan pasar. Padahal sastra merupakan sesuatu yang adiluhung, menyangkut soal spiritualitas dan kerohanian. \"Kalau sastra selalu mengandalkan bantuan dari orang lain, tidak akan maju. Bagaimana sastra bisa hidup kalau kita pegiatnya hanya bergantung pada asupan pemerintah saja,\" lanjutnya tegas. Selama ini, Rumah Kertas menggelar acara Malam Puisi di sejumlah tempat di Kota Cirebon. Setiap acara yang digelar berlangsung sederhana tapi khidmat. Tidak mewah, karena setiap Malam Puisi digelar hanya mengandalkan dana patungan dari para pegiatnya tanpa bantuan pemerintah. (*)  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: