Duterte Ancam Tiongkok Perang di Laut China Selatan

Duterte Ancam Tiongkok Perang di Laut China Selatan

MANILA - Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, meminta kapal-kapal nelayan dan penjaga pantai Tiongkok segera angkat jangkar dari Pulau Thitu atau Pulau Pag-asa di Laut China Selatan. Dia mengancam, akan mengirim pasukan jika peringatan itu tidak dipatuhi. \"Saya tidak akan meminta atau memohon, tapi saya mengatakan supaya jangan sentuh Pag-asa karena saya punya pasukan di sana. Kalau kalian (Tiongkok) menyentuhnya, itu cerita lain. Saya akan mengatakan kepada prajurit untuk bersiap melakukan misi bunuh diri,\" kata Duterte, Jumat (5/5). Duterte menegaskan berkali-kali, bahwa Filipina siap berperang dengan Tiongkok terkait sengketa pulau di Laut China Selatan itu. Namun, dia menyatakan kemungkinan besar Filipina akan menderita jika hal itu terjadi. Kementerian Luar Negeri Filipina sudah melayangkan protes atas keberadaan ratusan kapal Tiongkok di Pulau Thitu. Militer Filipina memantau ada lebih dari 200 kapal Tiongkok berlabuh di dekat Pulau Pag-asa sejak awal 2019 hingga Maret. Duta Besar Tiongkok di Manila, Zhao Jianhua, mengklaim kapal-kapal itu merupakan kapal penangkap ikan. Menurutnya, nelayan Tiongkok dan Filipina sama-sama bisa berlayar di perairan dekat pulau tersebut. Ia membantah, kapal-kapal nelayan asal negaranya itu membawa persenjataan. Dikutip Reuters, Filipina dan Tiongkok sama-sama memiliki klaim wilayah di Laut China Selatan. Filipina bahkan, pernah menggugat Tiongkok atas klaim historisnya di perairan itu ke Pengadilan Arbitrase Permanen (PCA) pada Juni 2016 lalu. Meski Filipina memenangkan gugatannya, Tiongkok berkeras tetap mengklaim hak historis atas perairan yang menjadi jalur perdagangan utama itu. Beijing bahkan, telah membangun sejumlah pulau buatan dan menempatkan sejumlah fasilitas militer hingga radar di pulau-pulau tersebut. Bahkan, cahaya dari ratusan bangunan di pulau buatan Tiongkok bahkan bisa dilihat dari Pulau Thitu setiap malam. Selain Filipina, sejumlah negara lain seperti Vietnam, Malaysia, Brunei, hingga Taiwan juga memiliki klaim atas perairan itu. Filipina memang merupakan sekutu lama AS. Namun, sejak Duterte menjabat sebagai presiden pada 2016 lalu, Filipina berupaya lebih mendekatkan diri pada Tiongkok, dengan imbalan pinjaman miliaran dolar dan jaminan investasi dari Beijing. (der/fin)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: