Ternyata Trump Tak Minum Hidroksiklorokuin Lagi

Ternyata Trump Tak Minum Hidroksiklorokuin Lagi

WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa dirinya tidak lagi mengonsumsi hidroksiklorokuin. Sebelumnya, Presiden ke-45 AS itu getol mempromosikan obat malaria tersebut untuk pasien yang terjangkiti penyakit virus corona 2019 (COVID-19).

Demi mempromosikan hidroksiklorokuin, Trump mengabaikan peringatan dari Badan Administrasi Obat dan Makanan AS (FDA) tentang efektivitas dan risiko mengonsumsi obat untuk malaria itu.

“Selesai, baru saja selesai,” ujar Trump dalam program acara Full Measure With Sharyl Attkisson yang ditayangkan Minggu (24/5) seperti dikutip JPNN.com.

Tetapi, Trump merasa baik-baik saja. “Ngomong-ngomong aku masih di sini. Sepengetahuanku, di sinilah aku,” katanya.

Presiden berlatar belakang konglomerat properti itu memicu kontroversi ketika mempromosikan hidroksiklorokuin sebagai obat penangkal maupun untuk merawat COVID-19. Tak sekadar mempromosikan hidroksiklorokuin, Trump bahkan meyakini obat itu sebagai game changer atau pengubah permainan untuk membalik kondisi.

Namun, sebuah penelitian yang dipublikasikan jurnal The Lancet mengungkap hidroksiklorokuin meningkatkan risiko kematian pasien COVID-19. Kesimpulan hasil studi itu tentu tak bisa diremehkan.

Studi itu melibatkan 96 ribu pasien virus corona dari enam negara berbeda yang dirawat pada periode 20 Desember 2019 hingga 14 April 2020. Hampir 15 ribu pasien diobati dengan hidroksiklorokuin maupun klorokuin saja, atau dikombinasikan dengan antibiotik.

Angka kematian pasien yang dirawat dengan hidroksiklorokuin dan sejenisnya ternyata lebih tinggi ketimbang yang tidak mengonsumsi obat-obatan itu. Hanya sekitar 9 persen pasien yang tidak mengonsumsi obat-obatan meninggal di rumah sakit.

Adapun angka pasien dengan klorokuin yang meninggal adalah 16 persen. Selanjutnya pasien dengan hidroksiklorokuin yang meninggal dunia di angka 18 persen, klorokuin plus antibiotik (22 persen), serta hidroksiklorokuin yang dikombinasikan antibiotik (24 persen). (usatoday/ara/jpnn)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: