Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Majid Al-Nur (2000), jilid 5, menerangkan bahwa istidraj adalah pemanjaan agar lebih terjerumus kepada kehinaan.
Mereka mengira, melalui berbagai kenikmatan Allah sedang memberikan kemuliaan padahal Allah sedang menghinakan perlahan-lahan dan bahkan membinasakan.
Mereka selalu berbuat maksiat dan tidak beribadah namun Allah berikan kemewahan dunia. Allah memberikan harta yang berlimpah padahal mereka tidak pernah bersedekah.
Allah karuniakan rezeki berlipat-lipat padahal jarang shalat, tidak senang pada nasihat ulama, dan terus berbuat maksiat.
BACA JUGA:Tidak Membuat Harta Berkurang, Ini 5 Keutamaan dan Manfaat Sedekah yang Mengagumkan
Hidup dikagumi, dihormati, padahal akhlaknya bejat; diikuti, diteladani dan diidolakan, padahal bangga mengumbar aurat dalam berpakaian.
Sangat jarang diuji sakit padahal dosa-dosa menggunung; tidak pernah diberikan musibah padahal gaya hidupnya jumawa, meremehkan sesama, angkuh, dan bedebah.
Allah berikan anak-anak sehat dan cerdas padahal ia memberi makan dari harta hasil yang haram (riba, menipu, korupsi).
Hidup bahagia penuh canda tawa padahal banyak orang karenanya terzalimi; kariernya terus menanjak padahal banyak hak orang yang diinjak-injak.
Semakin tua semakin makmur padahal berkubang dosa sepanjang umur.
BACA JUGA:Lirik Sholawat Fatih Lengkap dan Keutamaannya, Bacaan Wajib Pemain Timnas Maroko
Jamaah yang Berbahagia,
Dalam Al-Qur’an Allah mengingatkan:
Artinya: Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.Dan Aku akan memberikan tenggang waktu kepada mereka. Sungguh, rencana-Ku sangat teguh. (QS Al-‘Araf [7]: 182-183).
Secara bahasa, istidraj diambil dari kata 'daraja' (Bahasa Arab) yang berarti naik satu tingkatan ke tingkatan berikutnya. Namun, lebih dikenal sebagai istilah azab yang berupa kenikmatan.