Selain menggambarkan alam, makna lain dari warna dasar hitam dan putih yang menjadi ciri khas Dedi Mulyadi, diambil dari tokoh pewayangan.
Dijelaskan Dedi, tahta tertinggi dalam tokoh pewayangan digambarkan dengan warna hitam dan putih.
"Makanya dalam pewayangan, pemegang tahta spiritual itu digambarkan hitam putih. Yakni tokoh Semar yang digambarkan hitam putih," jelasnya.
Tidak hanya itu, penggunaan hitam dan putih, juga dikenakan umat muslim menjalankan ibadah haji atau umrah di tanah suci.
"Kalau kita pergi ke Mekkah, hanya dua warna. Laki-laki putih yang perempuan hitam," ujarnya.
Namun begitu, Dedi menegaskan jika warna hitam dan putih bukan merupakan perbedaan yang menjadi pemisah dalam kehidupan.
Dedi menekankan, karena perbedaan hubungan antar manusia bisa menjadi lebih erat.
"Hitam putih bukan dua dunia yang berbeda, melainkan dua dunia yang sama," ucapnya.
Seperti diketahui, sejak tidak lagi menjabat sebagai Bupati Purwakarta, penampilan Dedi Mulyadi identik dengan warna putih.
Ikat kepala hingga sepatu yang dikenakannya, selalu memiliki warna dasar putih.
Hal tersebut kini menjadi ciri khas pria yang lahir di Kabupaten Subang, 11 April 1971 ini.
Dedi Mulyadi sebelumnya merupakan anggota Dewan Perwakilan Rakyat daerah pemilihan Jawa Barat VII dan duduk di Komisi VI dari 2019 hingga 2023.
Sebelumnya, Dedi menjabat sebagai Bupati Purwakarta selama dua periode berturut-turut dari 2008 sampai 2018.
Kiprahnya menjadi bupati bermula setelah dirinya terpilih pada Pilkada 2008 dengan menjadikan Dudung Bachtiar Supardi sebagai wakilnya di pemerintahan.
Pada pemilu selanjutnya, ia kembali terpilih untuk masa jabatan kedua yakni periode 2013–2018.
Sebelum diangkat menjadi bupati, Dedi terlebih dahulu berkarier sebagai wakil bupati dan legislator di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Purwakarta pada 1999 hingga pengunduran dirinya seusai terpilih menjadi Wakil Bupati Purwakarta.