Irawan menambahkan, Dispora berkomitmen untuk memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat terkait penggunaan stadion.
BACA JUGA:Tujuh Tahun Mangkrak, Petambak Losari Tuntut Kepastian Investasi dari PT Kings
"Penggunaan Stadion Utama Bima bersifat pinjam lapangan dengan membayar retribusi, bukan sewa. Dispora memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat, berkaitan dengan penggunaan lapangan bola, mau A, B, atau C silakan. Tugas kami memberikan pelayanan, bukan menyewakan stadion, tapi pinjam lapangan," jelasnya.
Bahkan, Irawan menyatakan jika Bina Sentra kembali menggembok stadion, Dispora akan langsung membukanya.
"Kalau mereka menggembok lagi, kita yang membuka. Bukan kita buka paksa, karena itu memang punya pemerintah," tegasnya.
Terkait Memorandum of Understanding (MoU) dengan Bina Sentra, Irawan menyebutkan bahwa segala bentuk komunikasi sudah dilakukan, dan Stadion Bima tetap dipastikan menjadi fasilitas publik.
"Bina Sentra menyatakan sendiri ingin memperbaiki, tidak minta uang balik. Jadi itu keinginan sendiri, dan kami mempersilakan karena banyak keuntungan yang didapat," imbuhnya.
Mengenai ancaman laporan ke pihak kepolisian oleh Bina Sentra, Dispora siap menghadapi dan memberikan klarifikasi.
"Kalau akan dilaporkan ke kepolisian, ya silakan, saya siap diperiksa Polisi. Nanti kita tinggal menjelaskan, ini bukan sewa stadion, tapi pinjam lapangan," katanya.
Perlu diketahui, Subagja, Owner Binasentra Football Academy menggembok akses masuk Stadion Bima.
Dia mengungkapkan bahwa aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes atas kurangnya koordinasi dari Dispora dalam penggunaan stadion untuk event besar.
Di sisi lain, Subagja merasa berhak mengelola Stadion Utama Bima Cirebon karena sudah melakukan perjanjian dengan Pemkot Cirebon melalui Dispora.
Menurut Subagja, sebelum menandatangani perjanjian tersebut sudah ada jaminan dari Irawan sebagai Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Cirebon.
Subagja mengatakan, Irawan menjamin surat perjanjian itu tidak akan menimbulkan permasalahan di kemudian hari.
"Berarti event yang mau digelar di stadion ini tidak diperbolehkan. Bisa dikatakan gagal total karena tanpa koordinasi," kata Subagja.