MAJALENGKA, RADARCIREBON.COM - Perubahan Hari Jadi Kabupaten Majalengka dari Tanggal 7 Juni menjadi 11 Februari, mendapat banyak apresiasi dari berbagai kalangan.
Sebelumnya, Hari Jadi Majalengka yang diperingati setiap tanggal 7 Juni, berdasarkan dari dongeng dan mitos.
Kini, tanggal 11 Februari ditetapkan menjadi Hari Jadi Kabupaten Majelangka yang berdasarkan dari sejarah.
Namun begitu, perubahan tanggal hari jadi juga harus dibarengi dengan keberanian Pemerintah Kabupaten Majalengka (Pemkab Majalengka) dalam mengeluarkan sejumlah anggaran.
Seperti diungkapkan Ketua Asosiasi Guru Penulis (AGP) Kabupaten Majalengka, H Asikin Hidayat SPd MPd, menyatakan setuju atas perubahan Hari Jadi Majalengka.
BACA JUGA:Kota Angin Bakal Diguyur Hujan, Cuaca Majalengka 3 Bulan Kedepan
Menurutnya, perubahan tanggal hari jadi Majalengka tinggal menunggu pengesahan dari Bupati dan para anggota DPRD.
“Namun, pertanyaannya adalah kapan ini akan terealisasi? Semua tergantung kebijakan Bupati dan DPRD. Proses ini tidak mudah karena banyak pihak yang mungkin tidak setuju. Apalagi, nota ilmiah sudah diajukan sejak lama tapi belum berhasil disahkan," kata H Asikin dikutip dari Harian Radar Cirebon.
Menurutnya, perubahan hari jadi bukan hanya soal tanggal, tetapi juga menyangkut anggaran sejarah dan penyusunan narasi sejarah yang baru.
“Berani mengubah Hari Jadi artinya juga harus berani mengalokasikan anggaran untuk penelitian sejarah, seminar, dan diseminasi informasi. Beranikah kita?” tantangnya.
Sementara itu, budayawan asal Jatitujuh, Dedi Junaedi atau yang dikenal dengan nama Wa Kijoen, menegaskan pentingnya aksi nyata.
BACA JUGA:Hari Jadi Kabupaten Majalengka Berubah Jadi Tanggal 11 Februari
"Yang kita perlukan bukan sekadar slogan atau kata-kata bombastis. Sudahkah kita benar-benar berpikir dan bekerja untuk perubahan itu?” ujar Wa Kijoen.
Dengan adanya rencana perubahan Hari Jadi ke tanggal 11 Februari, para pegiat sejarah berharap ini menjadi momentum awal untuk menggali kembali sejarah Majalengka secara faktual dan ilmiah.
Hal tersebut seperti diungkapkan Pegiat sejarah dari Grup Majalengka Baheula (Grumala), Nana Rochmana atau yang akrab disapa Kang Naro.