Masjid Merah Panjunan: Denyut Sejarah dan Ibadah yang Kian Hidup Saat Ramadan

Sabtu 21-02-2026,12:05 WIB
Reporter : Ade Gustiana
Editor : Leni Indarti Hasyim

RADARCIREBON.COM - Ramadan mengubah ritme kawasan Panjunan. Aktivitas ibadah meningkat tajam. Masjid bersejarah kembali penuh.

Di dalam Masjid Merah Panjunan, jamaah duduk rapat di atas karpet merah. Sebagian bersila. Sebagian menunduk khusyuk.

Tiang-tiang kayu tua berdiri kokoh menopang atap rendah. Ukiran dan piring keramik menempel di dinding bata merah. Polanya melingkar. Warnanya kontras. Kipas langit-langit berputar pelan. Suasana teduh. Hening. Namun hidup.

Bangunan tua itu berdiri di wilayah Kota Cirebon. Letaknya di tengah permukiman padat. Tepat di kawasan yang dikenal sebagai Kampung Panjunan. Dari luar, gapura merah menjulang di pintu masuk.

BACA JUGA:Gagal Beraksi Saat Magrib, Dua Pelaku Curanmor Diamankan Warga di Jatiwangi Majalengka

Dinding bata panjang membentang di sisi jalan. Ornamen ukiran menghiasi permukaan tembok. Di trotoar depan, anak-anak berjalan santai. Aktivitas warga berlangsung biasa. Masjid tetap menjadi pusat perhatian.

Tokoh masyarakat Panjunan, Kang Isnain, mengatakan Ramadan selalu menghadirkan lonjakan jamaah. Semua waktu salat lebih ramai. Tidak hanya tarawih. Salat subuh dan duhur pun padat. “Kalau Ramadan, lima waktu selalu penuh,” ujarnya kepada Radar Cirebon kemarin (20/2/2026).

Masjid itu dibangun pada 1480 M. Didirikan oleh Syekh Syarif Abdurrahman bersama Sunan Gunungjati. Awalnya hanya musala kecil. Fungsinya untuk tempat ibadah komunitas Arab pendatang.

Mereka datang ke Cirebon untuk berdakwah dan berdagang. Seiring waktu, musala berkembang. Bangunan diperluas. Fungsi meningkat. Status berubah menjadi masjid.

BACA JUGA:CB150X ADV ID Chapter Bekasi Raya Perkuat Solidaritas Lewat Family Gathering Season 3

Nama “Masjid Merah” muncul dari warna dominan bangunan. Bata merah menjadi elemen utama. Hampir seluruh struktur dinding menggunakan material tersebut. Warna itu tetap dipertahankan hingga sekarang. Tidak dicat ulang dengan warna lain. Identitas visual tetap sama sejak berabad lalu.

Arsitekturnya berbeda dari masjid modern. Tinggi bangunan relatif rendah. Pintu masuk tidak menjulang. Jamaah harus sedikit menunduk saat masuk. Filosofinya jelas. Kerendahan hati. Sikap tunduk sebelum beribadah. Nilai simbolik itu masih dijaga.

Struktur atap menggunakan kayu trembesi tua. Material asli masih bertahan. Usianya sudah ratusan tahun. Tidak diganti beton. Tidak diganti baja. Kayu-kayu itu tetap berdiri sebagai rangka utama. Perawatan dilakukan seperlunya tanpa mengubah bentuk asli.

Di dalam bangunan terdapat 17 tiang penyangga. Jumlahnya tidak kebetulan. Angka itu melambangkan jumlah rakaat salat wajib sehari semalam. Makna simbolik menjadi bagian dari konsep arsitektur. Tidak sekadar struktur teknis.

BACA JUGA:Baru 9 Hari Kerja, Pekerja Asal Cirebon Mengaku Dipecat Sepihak Tanpa Upah

Kategori :