Masjid Merah Panjunan: Denyut Sejarah dan Ibadah yang Kian Hidup Saat Ramadan

Sabtu 21-02-2026,12:05 WIB
Reporter : Ade Gustiana
Editor : Leni Indarti Hasyim

Akulturasi budaya terlihat jelas di setiap sudut. Gapura bergaya lokal. Dinding bata bergaya Nusantara. Ornamen keramik bercorak Tiongkok. Semua berpadu. Tidak saling meniadakan.

Keramik hias itu tertanam langsung di bata. Dipasang sejak awal pembangunan. Bukan tambahan belakangan. Motifnya serupa dengan keramik di keraton dan kompleks makam wali di Cirebon. Warisan lintas budaya itu tetap utuh.

Kawasan sekitar dikenal sebagai Kampung Arab Panjunan. Wilayahnya meliputi tiga RW. Mayoritas penduduk keturunan Arab. Namun komposisi warga tetap beragam.

Ada warga Tionghoa. Ada warga pribumi. Semua hidup berdampingan. Perbedaan latar belakang tidak menjadi sekat sosial. Perbedaan hanya terlihat dari jumlah populasi.

BACA JUGA:Pasca Kerusuhan! Renovasi Gedung DPRD Kabupaten Cirebon Hampir Rampung, Progres Capai 95 Persen

Ramadan menjadi momentum paling hidup di kawasan tersebut. Aktivitas ibadah meningkat. Interaksi sosial juga meningkat. Warga lebih sering berkumpul. Masjid menjadi pusat kegiatan. Tidak hanya salat. Tadarus. Pengajian. Buka bersama. Semua berlangsung rutin. “Tradisi buka bersama digelar hampir setiap hari," tutur Isnain.

Sekitar 100 meter dari Masjid Merah, ada Masjid Asafi’i. Di masjid itu ada sajian khas. Bubur harisah. Menu tradisional komunitas Arab. Makanan itu hanya muncul saat Ramadan. Tidak dijual di hari biasa. Warga menunggu tradisi itu setiap tahun.

Menurut Isnain, tradisi Ramadan di Panjunan sebenarnya tidak berbeda jauh dengan wilayah lain. Namun tingkat keramaiannya berbeda. Lebih padat. Lebih hidup. Lebih terasa suasananya. Faktor sejarah dan identitas kawasan ikut memengaruhi.

Masjid Merah sendiri telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh pemerintah daerah. Status itu diberikan karena nilai sejarahnya tinggi. Usianya lebih dari lima abad. Perannya besar dalam penyebaran Islam di Cirebon. Struktur aslinya masih terjaga. Ornamen lama tetap utuh. Keaslian menjadi alasan utama penetapan.

BACA JUGA:Sorotan Publik Menguat! Komisi II dan III DPRD Kabupaten Cirebon Saling Tunggu Bahas Trusmi Land

Meski demikian, warga menilai penataan kawasan wisata belum maksimal. Beberapa fasilitas rusak. Lampu taman tidak menyala. Lampu gapura padam. Pohon palem banyak mengering. Kondisi itu sudah berlangsung lama. “Dari awal katanya ada perawatan. Tapi tidak ada,” kata Isnain.

Ia menyebut dulu sekitar 80 pohon palem ditanam di kawasan tersebut. Sekarang jumlahnya berkurang. Banyak mati. Tidak diganti. Jalan lingkungan juga masih rusak di sejumlah titik. Padahal kawasan itu memiliki nilai sejarah tinggi. Ikon wisata religi juga ada di sana.

Warga berharap perhatian pemerintah meningkat. Terutama dalam perawatan fasilitas. Termasuk situs bersejarah. Masjid tua. Gapura. Dan elemen kawasan lain. Mereka menilai potensi wisata religi di Panjunan besar. Namun belum dikelola maksimal.

Di tengah kondisi itu, aktivitas Ramadan tetap berjalan semarak. Jamaah terus berdatangan. Anak-anak ikut meramaikan halaman masjid. Orang tua berbincang setelah salat. Pedagang kecil muncul di sudut jalan menjelang waktu berbuka. Suasana berubah lebih hidup dibanding hari biasa.

BACA JUGA:Shin Tae-yong Dukung John Herdman Latih Timnas Indonesia, Yakin Bisa Tembus Piala Dunia 2030

Masjid Merah tetap menjadi pusat denyut kawasan. Bangunan abad ke-15 itu tidak hanya menyimpan sejarah. Ia juga tetap menjalankan fungsi utamanya. Tempat ibadah. Tempat berkumpul. Tempat tradisi berlangsung.

Kategori :