Komunikasi dengan Disbudpar Terus Berjalan
PT KAI juga telah menjalin komunikasi dengan Disbudpar Kota Cirebon untuk membahas persoalan ini.
Komunikasi tersebut dilakukan untuk menjelaskan kronologi pembongkaran serta langkah-langkah yang telah diambil.
Dalam pembicaraan tersebut, pihak Disbudpar meminta penjelasan detail mengenai proses pembongkaran, termasuk rencana pengamanan material.
KAI pun menyampaikan bahwa pembongkaran dilakukan sebagai bagian dari penataan kawasan, sekaligus memastikan bahwa material yang memiliki nilai masih disimpan dengan baik.
Saat ini, KAI menunggu langkah lanjutan dari pemerintah daerah, termasuk kemungkinan kebijakan terkait pelestarian atau pemanfaatan sisa material jembatan tersebut.
Antara Pembangunan dan Pelestarian
Kasus pembongkaran jembatan rel Kalibaru menjadi contoh nyata dilema antara pembangunan dan pelestarian sejarah.
Di satu sisi, penataan lingkungan menjadi kebutuhan mendesak untuk mengatasi persoalan perkotaan seperti banjir dan sampah.
Namun di sisi lain, keberadaan infrastruktur lama seperti rel kereta bersejarah Cirebon juga menyimpan nilai penting yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Sejumlah pengamat menilai bahwa pendekatan terbaik adalah mencari titik temu antara kedua kepentingan tersebut.
Misalnya dengan mendokumentasikan, merelokasi, atau bahkan merevitalisasi bagian dari struktur lama sebagai bagian dari kawasan wisata sejarah.
Menunggu Keputusan Lanjutan
Hingga saat ini, belum ada keputusan final terkait langkah lanjutan atas polemik pembongkaran jembatan rel Kalibaru.
PT KAI masih menunggu hasil koordinasi internal, sementara pemerintah daerah juga diharapkan segera menentukan arah kebijakan.
Masyarakat pun kini menanti kejelasan, apakah sisa-sisa rel kereta peninggalan Belanda di Cirebon akan tetap dijaga sebagai bagian dari warisan sejarah, atau sepenuhnya hilang seiring pembangunan kota.