STMIK IKMI Cirebon Perkuat Digitalisasi SDM lewat Instructor Mini Conference Cisco
STMIK IKMI menggelar Instructor Mini Conference Cisco Networking Academy di kampus setempat, Rabu (21/1/2026). Kegiatan ini diikuti 60 peserta. Mereka berasal dari berbagai latar belakang.-Ade Gustiana-radarcirebon
CIREBON, RADARCIREBON.COM - STMIK IKMI Cirebon kembali menegaskan posisinya sebagai kampus yang serius menyiapkan sumber daya manusia digital. Hal itu terlihat dari pelaksanaan Instructor Mini Conference Cisco Networking Academy yang digelar di kampus STMIK IKMI Cirebon, Rabu (21/1/2026).
Kegiatan ini diikuti 60 peserta. Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Mulai dari guru SMK Wilayah III Cirebon, dosen perguruan tinggi, hingga perwakilan Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (DKIS) Kota Cirebon. Peserta juga datang dari sejumlah kampus yang sudah tergabung maupun yang berencana bergabung dengan Cisco Networking Academy.
Skala pesertanya cukup luas. Tidak hanya dari Cirebon dan Jawa Barat. Sejumlah peserta datang dari Politeknik Negeri Padang, Politeknik Negeri Bandung, hingga Universitas Bakrie Jakarta. Ini menunjukkan daya tarik STMIK IKMI Cirebon sebagai tuan rumah kegiatan nasional di bidang teknologi informasi.
Acara ini merupakan bagian dari rangkaian Instructor Mini Conference yang digagas Cisco Systems Indonesia. Konferensi tahunan Cisco tahun ini akan dipusatkan di Sumatera. Sebagai pengantar, Cisco menggelar seri mini conference di tiga kota. Serang, Cirebon, dan Madura. Cirebon menjadi kota kedua. Lokasinya dipilih di STMIK IKMI Cirebon.
BACA JUGA:Peluang Kerja di Majalengka Masih Terbuka Lebar, 5.325 Tenaga Kerja Terserap Sepanjang 2025
Area Academy Manager Cisco Systems Indonesia, Adri Gautama, menjelaskan bahwa kegiatan ini berfokus pada penguatan digitalisasi pendidikan. Utamanya dalam menyiapkan peserta didik sejak di ruang kelas agar siap masuk ke dunia kerja IT yang sesungguhnya.
Cisco mendorong agar kurikulum global tidak berhenti di atas kertas. Kurikulum harus hidup di kelas. Diterapkan secara nyata. Disesuaikan dengan kebutuhan industri. Dengan begitu, mahasiswa dan siswa tidak kaget saat masuk ke dunia kerja.
Dalam konteks itu, STMIK IKMI Cirebon dinilai sebagai salah satu kampus yang paling aktif. Kurikulum Cisco tidak berdiri sendiri. Tetapi diintegrasikan ke dalam kurikulum kampus. Sejumlah mata kuliah diselaraskan dengan modul Cisco.
Beberapa materi Cisco bahkan dijadikan bagian resmi dari pembelajaran. Model ini memberi keuntungan ganda bagi mahasiswa. Saat lulus, mereka tidak hanya membawa ijazah kampus. Mereka juga mengantongi sertifikat mikrokredensial dari Cisco sesuai kursus yang diambil. Sertifikat ini diakui secara global. Menjadi nilai tambah di pasar kerja.
BACA JUGA:Konflik Mata Air Gunung Ciremai: Warga Resah Terancam Krisis, PDAM Bantah Eksploitasi Mengaku Paling Kecil
Program Cisco Networking Academy sendiri dirancang untuk membuka akses seluas-luasnya pada materi teknologi berstandar internasional. Materi yang dipelajari di Indonesia sama dengan yang dipelajari di negara lain. Hal ini menumbuhkan kepercayaan diri. Sekaligus meningkatkan daya saing global lulusan.
Meski belum dilakukan pelacakan menyeluruh, Cisco mencatat dampak positif dari program ini. Berdasarkan survei internal, hampir 90 persen lulusan merasakan manfaat langsung. Mulai dari lebih cepat mendapatkan pekerjaan hingga lebih siap melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Pengetahuan yang terstruktur dan berstandar global membuat lulusan tidak gamang. Mereka lebih percaya diri. Lebih siap beradaptasi. Termasuk saat menghadapi seleksi kerja atau studi lanjutan.
Tantangan tetap ada. Terutama saat lulusan pertama kali masuk industri. Banyak yang terbiasa dengan simulasi. Belum bersentuhan langsung dengan perangkat asli. Namun tantangan ini bersifat sementara. Setelah berhadapan langsung dengan perangkat dan melakukan konfigurasi, adaptasi berlangsung cepat.
BACA JUGA:Anggaran Rp6,8 Miliar, Proyek Penataan Sukalila-Kalibaru Cirebon Gandeng TNI AD
Dalam diskusi, juga mengemuka pentingnya peran instruktur. Perkembangan teknologi bergerak sangat cepat. Pengajar tidak bisa berhenti belajar. Cisco merespons hal ini dengan rutin menggelar pembaruan. Mini conference tahunan. Webinar setiap tiga bulan. Semuanya untuk memastikan instruktur selalu update.
Ada catatan kritis bagi dunia pendidikan. Pengajar tidak boleh merasa sudah paling tahu. Ilmu teknologi terus berubah. Apa yang dipelajari saat kuliah dulu, bisa jadi sudah usang. Pengajar dituntut untuk terus “mengosongkan gelas”. Belajar bersama mahasiswa. Berkembang bersama. Tidak berhenti pada gelar akademik.
Ketua STMIK IKMI Cirebon, Assoc Prof Dr Dadang Sudrajat SSi MKom, menegaskan bahwa kegiatan ini sejalan dengan visi kampus. IKMI berkomitmen menjadi pusat pengembangan talenta digital di wilayah Cirebon dan sekitarnya.
Menurutnya, kolaborasi dengan Cisco bukan sekadar kerja sama formal. Tetapi strategi jangka panjang. Kampus ingin memastikan lulusannya relevan dengan kebutuhan industri. Tidak tertinggal oleh perubahan teknologi. Tidak hanya kuat secara teori, tetapi juga siap secara praktik.
BACA JUGA:Terungkap Fakta Mengejutkan Mata Air Gunung Ciremai: Mayoritas Pemanfaat Tak Berizin
"STMIK IKMI Cirebon terus membuka diri terhadap kolaborasi. Baik dengan industri, pemerintah, maupun institusi pendidikan lain. Kehadiran guru SMK, dosen lintas kampus, dan perwakilan pemerintah dalam kegiatan ini menjadi bukti nyata ekosistem digital sedang dibangun bersama," kata Dadang.
Ia juga menekankan pentingnya peran perguruan tinggi daerah. Cirebon tidak boleh hanya menjadi penonton. Harus ikut mencetak SDM digital unggul. Berdaya saing nasional dan global.
Dengan menjadi tuan rumah Instructor Mini Conference Cisco, STMIK IKMI Cirebon kembali menegaskan langkahnya. Menjadi simpul penting penguatan digitalisasi pendidikan. Dari Cirebon, untuk Indonesia. (ade)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

