Daya Motor

Ketua BEM UGM Mengaku Diteror: 'Makin Ditekan, Makin Melawan, Makin Diteror, Makin Gacor'

Ketua BEM UGM Mengaku Diteror: 'Makin Ditekan, Makin Melawan, Makin Diteror, Makin Gacor'

Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto Tiyo Ardianto mengaku diteror pasca melontarkan kritik keras terkait program MBG.-Foto: DisMorning - tangkapan layar-radarcirebon.com

RADARCIREBON.COM – Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto mengaku diteror pasca melontarkan kritik keras terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Teror serupa tak hanya diterima Tiyo. Namun merembet kepada sang ibu. Begitu juga pengurus BEM UGM lainnya.

Meski menerima rentetan teror dari nomor asing (luar negeri), pihaknya menyatakan siap mengawal isu keadilan dan pendidikan.

Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, mengatakan intimidasi dan teror yang terjadi justru memperkuat solidaritas internal organisasi.

BACA JUGA:Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Kirim Surat ke UNICEF: Help Us!

“Teror itu tidak akan menjadi teror ketika kami tidak takut dan tidak gentar. Semakin ditekan, semakin melawan. Semakin diteror, semakin gacor,” ujar Tiyo di Kanal DisMorning Dahlan Iskan, Jumat, 27, Februari 2026.

Ia menilai respons Presiden Prabowo Subianto terhadap kritik mahasiswa, khususnya terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG), belum menyentuh substansi persoalan.

Ketika merespons kritik, presiden justru menjawab dengan menyebut tingkat keracunan dalam pelaksanaan MBG hanya sebesar 0,0006 persen.

Menurutnya, respons dari presiden tersebut menunjukkan bahwa kritik mahasiswa belum sepenuhnya dipahami.

BACA JUGA:Arus Mudik Lebaran 2026, Jabar Siapkan 60 Posko dan Tim Reaksi Cepat

“Respons ada, tetapi tidak menunjukkan keterbukaan dalam mendengarkan kritik,” katanya.

Tiyo juga menyoroti apa yang ia sebut sebagai gejala “keangkuhan kekuasaan”. Ia menilai pemerintah merasa telah menguasai perangkat politik melalui koalisi besar di parlemen, sehingga kritik publik dianggap tidak signifikan.

“Seolah-olah ketika elit diam, maka tidak ada masalah. Padahal demokrasi menempatkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa dalam sistem demokrasi, kekuasaan tidak hanya berkutat pada lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif, tetapi juga pada partisipasi rakyat.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: