10 Provinsi Kasus Kematian Tertinggi

10 Provinsi Kasus Kematian Tertinggi

JAKARTA- Sejumlah situasi memicu angka kematian Covid-19 relatif tinggi di 10 provinsi dalam sepekan terakhir. Angkanya mencapai 75 persen dari total kasus kematian secara nasional.

Ke 10 provinsi dengan laju angka kematian nasional tertinggi adalah Jawa Timur (1.214 jiwa), Jawa Barat (922 jiwa), Jawa Tengah (530 jiwa), Bali (329 jiwa), Sumatera Utara (222 jiwa), Kalimantan Timur (213 jiwa), Daerah Istimewa Yogyakarta (206 jiwa), Riau (193 jiwa), Lampung (179 jiwa) dan Kalimantan Selatan (150 jiwa).

“Sembilan dari 10 provinsi tersebut sama-sama menjadi penyumbang tertinggi pada angka kasus aktif, angka kesembuhan dan angka kematian dalam waktu yang bersamaan per Minggu (29/8). Ini artinya, kualitas pelayanan kesehatan di provinsi-provinsi ini sudah ditingkatkan. Namun kematian belum dapat ditekan,” kata Ketua Tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito melalui kanal YouTube BNPB di Jakarta, Selasa (31/8).

Hal ini dapat terjadi karena penanganan warga yang terkena Covid-19 tidak dilakukan dengan sigap dan cepat. Atau karena masih adanya warga yang melakukan isolasi mandiri. Selain itu, fokus penanganan Covid-19 di daerah tersebut masih berada di hilir. Yakni pelayanan terhadap pasien dan belum maksimal di tingkat hulu. “Pencegahan dan pengawasan disiplin protokol kesehatan wajib ditingkatkan,” imbuhnya.

Pengawasan pasien serta pengawasan protokol kesehatan berperan penting dalam perkembangan kasus aktif, sembuh dan meninggal. “Ini lagi-lagi tidak terlepas dari peran posko atau satgas di tingkat desa atau kelurahan. Posko dan satgas sudah banyak terbentuk di provinsi-provinsi. Namun pelaporan kinerjanya masih terpusat pada kegiatan edukasi dan sosialisasi 3M, kegiatan pembubaran kerumunan, mendata warga yang positif, dan pengawasan protokol kesehatan,\" tutur Wiku.

Dia meminta seluruh kepala daerah dari 10 provinsi tersebut untuk memantau pelaksanaan fungsi posko di wilayah kerjanya masing-masing. “Pastikan warga yang terkena Covid-19 memanfaatkan tempat isolasi terpusat dan tidak melakukan isolasi mandiri. Agar kondisinya dapat dipantau serta dapat meminimalkan risiko,” tandasnya.

Sementara itu, Indonesia akan mendapat tambahan 331,6 juta dosis vaksin Covid-19 sepanjang Agustus hingga Desember 2021 mendatang. Rinciannya 258.675.000 sudah fixed. Sementara 73.000.000 berstatus unfixed.

“Saat ini, sebanyak 61,5 juta atau 29,5 persen masyarakat Indonesia telah mendapat vaksin tahap pertama. Kemudian 34,8 juta atau 16,7 persen masyarakat sudah mendapat vaksinasi tahap kedua,\" kata Presiden Joko Widodo dalam Kongres ISEI XXI dan Seminar Nasional 2021 secara virtual di Jakarta, Selasa (31/8).

Menurutnya, tingkat pandemi Covid-19 di Indonesia juga terus menurun. Dalam dua pekan terakhir, kasus Covid-19 di Indonesia sudah melewati puncak penularan dan jumlah kasus terkonfirmasi Covid-19 telah menurun signifikan 86,9 persen. Angka kesembuhan lebih tinggi jika dibandingkan penambahan kasus terkonfirmasi positif.

“Alhamdulillah kasus Covid-19 Indonesia sudah melewati puncaknya. Saat ini turun signifikan dalam 2 pekan terakhir. Penurunan BOR (Tingkat keterisian tempat tidur di Rumah Sakit) nasional saat ini 27 persen,” imbuh Kepala Negara.

Jokowi mengaku memerintahkan vaksinasi masif bagi para pelajar dan santri. Khususnya di daerah yang tingkat penyebaran Covid-19 cukup tinggi. “Kegiatan vaksinasi bagi pelajar dan santri ini harus dilakukan besar-besaran,\" terang Jokowi.

Alasannya, mayoritas pelajar sudah ingin pembelajaran tatap muka di sekolah. Dia berharap vaksinasi dapat memberikan proteksi kepada para pelajar dan santri jelang rencana pembelajaran tatap muka. “Insya Allah, dimulai nanti awal September atau minggu depan. Kita harapkan penularan Covid-19 utamanya varian Delta bisa dikendalikan,” pungkasnya. (rh/fin)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: