Yamaha 2022-09

Tiga Srikandi UMC Berdayakan Perempuan Pengusaha Batik Tulis Lewat PKM Kemenristekdikbud

Tiga Srikandi UMC Berdayakan Perempuan Pengusaha Batik Tulis Lewat PKM Kemenristekdikbud

Tiga Dosen Perempuan Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) yang menghendaki agar perempuan tetap berdaya di masa transisi.--

Radarcirebon.com, CIREBON - Banyak pengusaha perempuan menghadapi masa paceklik saat badai pandemi terjadi.

Tak ayal, mereka menemui kesulitan dalam berusaha dan memasarkan hasil produksinya, kesulitan ekonomi di keluarga, anak-anak harus belajar di rumah dan permasalahan lain yang kompleks. 

Begitupun dengan Perempuan Pengusaha Batik Tulis, mereka harus memutar otak untuk memastikan roda bisnis tetap berjalan

Problematika diatas pun memicu Semangat Tiga Dosen Perempuan Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) yang menghendaki agar perempuan tetap berdaya di masa transisi pandemi ke endemi ini.

BACA JUGA:Penggemar Jeroan Bisa Merapat ke Mindho Kicthen, Cek Alamatnya di Sini

BACA JUGA:Sanksi FIFA untuk Indonesia Setelah Tragedi Kanjuruhan, Sekjen PSSI Yakin Tidak Ada

Ketua Tim Riset Program Kemitraan Masyarakat (PKM), Dr. Sari Laelatul Qodriah, S.E.,M.Si menegaskan bahwa perempuan mesti berdaya, agar keluarganya juga bahagia. Di sisi lain, dengan perempuan berdaya, dapat menjadi support system yang positif untuk suami.

Untuk itu, Dr. Sari Laelatul Qodriah bersama Tim Peneliti lainnya yaitu Ir. Nuri Kartini MT dan Desy Lusiyana M.Pd mengaku bersykur atas lolosnya Proposal PKM yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemenristekdikbud), dimana tujuannya sangat bermanfaat.

Kepala lembaga pengembangan Unit Usaha UMC ini menjelaskan bahwa mereka memilih Sanggar Batik Umah Cerdas Cirebon sebagai tempat pelaksanaan PKM.

Peneliti lainnya, Ir. Nuri Kartini MT memaparkan sejumlah masalah yang dihadapi seperti fluktuasi dan ketersediaan bahan baku, kendala pemasaran, dan berkurangnya tenaga pembatik. Selain itu juga terdapat masalah produksi dan non produksi.

BACA JUGA:Penukaran Tiket Pertandingan Persib vs Persija Imbas Tragedi Kanjuruhan, Begini Kata Manajemen

"Masalah dibagi menjadi dua yaitu masalah produk dan non produk. Masalah produk diantaranya kesalahan pada pemotongan pola, masalah pada proses mencanting, pewarnaan dan proses akhir. Pada pemotongan pola masalah yang sering ditimbulkan yaitu dengan kesalahan mengukur dan pemotongan. Pada proses mencanting yang menjadi masalah yaitu tetesan malam yang terbuang, borosnya menggunakan kompor minyak, canting bocor, dan pemanas lilin yang tidak stabil," Nuri, Sabtu (1/10/2022).

"Masalah non produksi seperti pemasaran dan pelayanan pada konsumen juga tak luput dari sorotan. Pemasaran kain batik yang dilakukan mitra dilakukan secara tradisional. Tidak jarang mitra menjual batik hasil produksi kepada butik dengan harga rendah. Masalah selanjutnya yaitu belum ada layanan konsumen," tambahnya. 

Melihat berbagai permasalahan di atas, ujar Nuri, maka penting sekali kegiatan PKM ini dilakukan sebagai wujud penyelesaian beberapa permasalahan dunia industri, khususnya Batik Tulis yang yang awaki oleh Pengusaha Perempuan . 

Sumber: