Syekh Panji Gumilang Soal Umat Idlam: Jangan Kaku dan Terbelenggu

Syekh Panji Gumilang Soal Umat Idlam: Jangan Kaku dan Terbelenggu

Syekh Panji Gumilang bicara tentang umat Islam di era global. -Mahad Al Zaytun-radarcirebon.com

INDRAMAYU, RADARCIREBON.COM - Bagaimana posisi umat Islam Indonesia di tengah perkembangan agama-agama di dunia?

Juga bagaimana posisi dan peranannya dalam interaksi pergaulan kawasan dan dunia pada era globalisasi ini?

Syekh Panji Gumilang, pendiri Mahad Al Zaytun mempunyai jawabannya. Dalam tulisan berjudul “Al Zaytun sumber inspirasi. Bermasyarakat, berbangsa dan bernegara”, panjang lebar Panji Gumilang membahasnya.

Pembahasan itu diunggah oleh Azis Thong melalalui statusnya di media sosial Facebook, pada 2 November 2015. Unggahan itu membahas soal posisi umat Islam di era global.

BACA JUGA:Jamaah Tertua Indonesia Sudah Tiba di Madinah, Begini Kondisinya

Dalam konteks ini, Syech Panji Gumilang berulang kali menegaskan bahwa Islam dan umat Islam memiliki watak shalih. Dalam bahasa agama disebut: li kulli zamanin wa makanin. Maksudnya kontekstual di setiap zaman dan tempat.

Maka Panji Gumilang berpandangan, umat beragama (dalam konteks ini kaum muslimin) sudah saatnya tidak selalu kaku terbelenggu oleh set-up atau aturan agamanya secara harfiyah.

Karena sesungguhnya, kata dia, set-up Islam memberi keleluasaan pemeluknya untuk menciptakan rahmah (sympathy). Yang bersifat kontekstual dan menebarkannya kepada segala lapisan penghuni dunia.

Syekh Alzaytun berpandangan, dalam posisi beragama yang tidak aktual, justru akan menjauhkan tujuan agama itu sendiri dengan hakikat kehidupan pemeluknya.

BACA JUGA:Mantan Menteri Era Orde Baru dan Gus Dur, Sarwono Kusumaatmadja Meninggal Dunia

Satu sisi, tujuan beragama adalah tercapainya kebahagiaan hidup dalam arti kata seluas luasnya. Baik kini maupun mendatang atau dunia akhirat. 

Namun pada sisi lain, dalam posisi beragama yang tidak kontekstual. Pemeluk agama atau kaum muslimin terasa dan semakin jauh dari tujuan beragama itu.

Keadaan ini menurutnya, bisa menempatkan posisi kaum muslimin Indonesia (umat beragama) tampak sebagai kumpulan banyak manusia yang terbelenggu. Sehingga, terjebak dalam ketidakberdayaan. Lemah, miskin, dan terbelakang pendidikannya.

Panji Gumilang menegaskan, kondisi seperti ini harus dicermati secara seksama dan serius. Agar, Indonesia dan bangsanya mampu bangkit dengan seksama menghadapi tantangan dahsyat abad ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: