Panji Gumilang Beberkan Alasan Indonesia Tidak Mau Membuka Hubungan Diplomatik dengan Israel

Panji Gumilang Beberkan Alasan Indonesia Tidak Mau Membuka Hubungan Diplomatik dengan Israel

Panji Gumilang bersama mantan Duta Besar Palestina untuk Indonesia Ribhi Awad.-Tangkapan layar-

 

INDRAMAYU, RADARCIREBON.COM – Pemimpin Pondok Pesantren Al Zaytun, Panji Gumilang ternyata menaruh perhatian terhadap konflik di Timur Tengah, antara Palestina dan Israel.

 

Bahkan, Syekh Al Zaytun Panji Gumilang pernah menanyakan kepada AM Hendropriyono yang saat itu menjabat sebagai Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) soal upaya membangun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Israel.

BACA JUGA:Pertamina Patra Niaga Regional JBB Salurkan Perdana Produk B35

Diceritakan, pada suatu waktu, Pondok Pesantren Al Zaytun kedatangan Duta Besar Palestina untuk Indonesia Ribhi Awad.

 “Beliau Duta Besar ingin berkunjung ke Kampus Al Zaytun. Ketika itu, masih baru berdiri. Beliau datang ke kampus, berpidato di masjid lalu bertukar cinderamata,” ungkap Panji Gumilang.

Panji Gumilang dengan Ribhi Awad mempunyai hubungan yang begitu akrab. Saking akrabnya, dia pun memberanikan diri untuk bertanya langsung kepada sang duta besar.

BACA JUGA:Sabtu Ganjar ke Cirebon, Sapa 8Ribu Kader PDIP di Stadion Bima

“Kenapa Palestina tidak bisa melakukan persahabatan dengan Israel?,” tanya Syekh kepada Ribhi Awad.

Ribhi Awad menjawab, “Apa yang disampaikan jadi suara hati kami,” kata Syekh Al Zaytun menyampaikan apa yang dikatakan dubes.

Kemudian, duanya memanjatkan doa mengenai harapan adanya perdamaian antara Palestina dan Israel.

Selang beberapa lama, Panji Gumilang pun kembali mengundang Ribhi Awad untuk datang ke Pondok Pesantren Al Zaytun guna memperingati 1 Muharram.

BACA JUGA:Syekh Panji Gumilang Bilang, Pemimpin Tak Boleh Bodoh, Bisa Kacaukan Dunia

Kali ini, Ribhi Awad diminta oleh Syekh Panji Gumilang untuk memfasilitasi duta besar negara Timur Tengah dan Eropa Timur yang punya penduduk muslim agar bisa hadir dalam peringatan tersebut.

Panji Gumilang meminta tolong kepada orang yang tepat. Ternyata, Ribhi Awad adalah koordinator dari para duta besar negara Timur Tengah dan Eropa Timur, sehingga undangan pun dengan mudah tersampaikan.

“Ternyataan Kedutaan Besar yang negara Islam, ketuanya adalah Ribhi Awad. Sempat diundang, ada Dubes Libya, Nigeria dan bincang-bincang. Pada waktunya datanglah para Duta Besar, yang undangannya disampaikan lewat Ribhi Awad,” bebernya.

BACA JUGA:Apa Hebatnya Timnas Indonesia? Pelatih Argentina Sampai Panggil Pemain Baru, Ketum AFA Pun Takut Kalah

Dalam kesempatan itu, keduanya menyampaikan pendapatnya apa yang menjadi ide awal kepada para Duta Besar, yakni normalisasi hubungan diplomatik antara Palestina dan Israel.

“Setiap Duta Besar punya pandangannya masing-masing, ada yang secara tidak langsung menolak, ada yang setuju. Yang penting itu sudah dilontarkan dan ditanggapi. Itu karena hubungan baik syekh dan Ribhi Awad," katanya

Usai jamuan tersebut, Syekh Al Zaytun juga menyampaikan kepada Jend (Purn) AM Hendropriyono Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) saat itu. Sekaligus menanyakan, mengapa Indonesia tidak membuka hubungan diplomatik dengan Israel?

BACA JUGA:Ketika Tim Sergap Mabes TNI Datang Tawarkan Bantuan, Begini Respons Panji Gumilang

"Siapa yang tidak kenal Jenderal Hendropriyono, yang dalam intelijen sangat mumpuni," tegasnya.

Dijawab oleh Hendropriyono, pertama karena takut ke negara-negara Arab. Syekh bertanya: “Kenapa harus takut kepada Arab?” Dijawab Jendera Hendropriyono: “Sudah lah syekh jangan ke sana-sana, terlalu jauh,” ungkapnya.

Dari pertemuan itu, proses penjajakan tidak pernah berhenti. Sekaligus upaya untuk membuka hubungan diplomatik antara Israel dan Palestina.

BACA JUGA:Bangun Kapal Seukuran Bahtera Nabi Nuh, Ini 5 Kapal Syekh Panji Gumilang dan Mahad Al Zaytun

“Syekh menyampaikan itu pada jalurnya dan tidak pernah berhenti. Kalau orang mengatakan membela Palestina, belum tentu ketika Ribhi Awad itu sakit membantu,” katanya.

Sampai Ribhi Awad dan Yaser Arafat wafat, wacana itu masih terus diupayakan. “Intinya ketika Fatah memimpin Palestina diusahakan. Sampai terjadilah rundingan di berbagai tempat.

“Sampai sekarang belum terjadi perdamaian. Tapi, syekh terus mengumandangkan. Kalau gagasan tidak dikumandangkan, nanti mati,” pungkasnya. (*)

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: reportase