Sebulan Launching, Aliran Gas Belum Masuk

Sebulan Launching, Aliran Gas Belum Masuk

HARJAMUKTI- Jaringan pipa gas alam di Kecamatan Harjamukti sudah ditandai dengan tugu patok sebagai penanda, kemarin (30/10). Para pekerja sudah menanam tugu patok itu di sejumlah ruas Jl Pramuka dan sekitarnya. Pemasangan ini berfungsi selain sebagai penanda adanya jaringan gas di dalam tanah juga sebagai tanda keamanan. \"Ya ini sebagai keamanan warga saja, supaya tidak asal menggali tanah karena sekarang gas alam sudah mulai menyala,\" terang Cibut, salah seorang pekerja. Dalam tugu patok itu terdapat tulisan gas yang bertekanan rendah (TR), tekanan menengah (TM) dan Tekanan Tinggi (TT). \"Saat ini pemasangan sudah dilakukan di jalan pramuka, kemudian ke perumahan sampai ke pelosok juga, terutama yang gas alamnya sudah menyala,\" ujarnya.  Pemasangan patok ini ditanam antara jarak seratus meter, dan ditempatkan di dekat pipa jaringan berjarak satu meter. \"Jadi penempatannya tidak berada pas di atas jaringan, jarak satu meter lah di atas jaringan pipa,\" sebutnya. Tugu sendiri, dicat dengan warna kuning. Pengaliran gas alam atau lazim disebut city gas di Harjamukti masih terus dilakukan secara bertahap. Namun demikian, sejumlah warga yang belum teraliri mengaku sudah tidak sabar. Sebab aliran gas alam ini sudah ditunggu sejak lama oleh sekitar 4000 kepala keluarga di tiga kelurahan di Kecamatan Harjamukti. \"Ini kan sudah dua tahun sejak pemasangan, terus sudah launching juga harus menunggu. Kita sih harapnya bisa lebih cepat agar bisa dimanfaatkan untuk keperluan memasak,\" ujar Nani, salah seorang ibu rumah tangga di RT 01 RW 09 Katiasa. Di kawasan Katiasa, walaupun sudah teerpasang instalasi jaringan gas alam namun aliran belum menyala ke daerah tersebut. Terakhir kali, kata Nani, pihaknya didatangi oleh petugas untuk mengcek jaringan gas alam di rumah warga. \"Sejauh ini sih masih bagus jaringannya,\" katanya. Nani mengatakan adanya gas alam ini bisa menjadi bahan bakar utama mengganti elpiji. Diakuinya, penggunaan tabung elpiji saat ini sangat berisiko dan juga sulit didapat. Nani berharap adanya gas alam bisa lebih hemat dan aman dalam penggunannya. \"Pengalaman yang sudah pasang gas alam sih, katanya lebih irit dan aman,\" ujarnya. Diksebutkan Nani, ia sudah menghitung sendiri perbandingan pengeluaran pengunaan elpiji dan gas alam. Ambil contoh, dalam satu bulan, ia membutuhkan rata-rata 3-4 tabung elpiji untuk keperluan memasak. Apabila harga satu tabung Rp 17.000, maka biaya yang dibutuhkan sebesar Rp68 ribu. Sementara apabila menggunakan gas alam, ia hanya butuh Rp25 ribu hingga Rp35 ribu. Perhitungannya sederhana, apabila pengunaan dalam satu bulan 10 meter kibik, maka biayanya Rp25 ribu. Karena 1 meter kibik itu dihargai Rp2.500. \"Kita bisa mengontrol penggunaanya lewat meteran, dan bisa meenghitung sendiri biaya yang harus dibayar. Jadi keuangan bisa lebih hemat,\" terangnya kepada Radar. Namun demikian, bukan berarti penggunaan gas alam tidak memiliki kekurangan. \"Ya khawatirnya aliran gas ada gangguan, kalau tidak mengalir kan bisa repot untuk kebutuhan memasak,\" ujarnya Ida, ibu rumah tangga di RT 03 RW 09 Kalijaga yang saat ini sudah teraliri gas alam. Diakuinya, saat ini dalam sebulan memang aliran gas tidak ada kendala. \"Lancar. Hanya satu hari gak lancer, itu karena ada perbaikan jaringan,\" tukasnya. Ia juga berharap agar pencatatan meteran bisa dilakukan dengan fair, sehingga beban biaya tidak membengkak. \"Ya mudah-mudahan tidak seperti PDAM, aliran air gak nyala tapi tetap kena bayaran,\" tukasnya. Di lain sisi, ia menganggap peraturan pembayaran gas alam terbilang ketat. Sebab, apabila telat membayar tagihan akan dikenakan denda satu hari Rp15 ribu. \"Ya mudah-mudahan pelayananya juga bagus,\" tuntasnya.   (jml)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: