Gotrasawala Bahas Polemik Naskah Wangsakerta

Gotrasawala Bahas Polemik Naskah Wangsakerta

CIREBON - Hari pertama Gotrasawala 2014 diawali dengan konferensi kebudayaan di bangsal Pagelaran Keraton Kasepuhan, kemarin (3/12). Konferensi tersebut dihadiri sejarawan dan budayawan dalam dan luar negeri. Nama-nama beken yang hadir antara lain Prof Nina Lubis (Historian), Drs Achmad Opan Safari (Philologist), Dr Tedi Permadi (Museulogist), dan Mustaqim Asteja (Film Maker). Hadir juga Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar dan Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat SE, Sekretaris Daerah, Asep Dedi yang resmi membuka Gotrasawala bertemakan \"Revisting Cirebon in the 17th Century\". Istilah \'gotrasawala\' sendiri mendekati pada kegiatan semacam lokakarya kekeluargaan yang mengacu pada peristiwa berkumpulnya 70 ahli sejarah dari berbagai kerajaan di Nusantara. Konferensi dibuka dengan film pendek karya Mustaqim Asteja yang mengupas sosok Pangeran Wangsakerta dan warisannya yang kontroversial berupa ribuan naskah sejarah nusantara yang berhasil disusun dan ditulis bersama timnya selama 1677-1698 Masehi. Kemudian konferensi dilanjut pembahasan tentang polemik naskah pangeran Wangsakerta. Prof Nina Lubis saat menjadi pembicara dalam kegiatan itu membeberkan, sejumlah pihak menyebut naskah Pangeran Wangsakerta adalah naskah salinan. Alasan mereka beragam, seperti metode penyusunan naskah yang dianggap terlalu ilmiah pada zamannya, penggunaan kertas yang dinilai bukan berasal dari zaman tersebut, hingga tidak ada catatan dari pihak Belanda tentang peristiwa Gotrasawala yang menjadi dasar penyusunan ribuan naskah itu. \"Dari ribuan naskah, naskah yang ditemukan sejumlah pihak dari berbagai wilayah di Indonesia kini tersimpan di Museum Sri Baduga, Bandung. Tulisannya setelah diteliti memang tulisan abad ke 17, tapi untuk kertas dan tintanya abad ke 20. Untuk itu, kami sejarawan masih terus mengumpulkan, menerjemahakan dan mengkaji ulang naskah-naskah yang terkumpul,\" ujarnya. Sementara soal jenis kertas yang dipakai, menurut Dr Tedi Permadi, zaman itu jenis kertas daluang, bukan hanya yang dibuat warga lokal yang dibuat dari kulit pohon saeh, tapi juga bisa diimpor dari China maupun Arab. \"Naskah-naskah itu diidentifikasi menggunakan tinta hitam pada kertas daluang, menggunakan aksara dan bahasa Jawa Pesisiran,\" ujarnya. Sementara itu, Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat menyebut Pangeran Wangsakerta bukan sekadar tokoh masyarakat Cirebon. Dia dipandang sebagai sejarawan besar di zamannya sehingga layak tercatat sebagai sejarawan Indonesia. \"Pangeran Wangsakerta layak jadi sejarawan dunia. Di zaman yang belum ada alat komunikasi seperti sekarang, beliau mampu mengumpulkan para sejarawan, seniman dan budayawan,\" cetusnya. Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar yang membuka Gotrasawala berharap event ini dapat memupuk rasa kebangsaan, kebanggaan, serta memperkokoh jati diri bangsa yang dapat berdampak pada pelestarian seni dan budaya juga dunia pariwisata. \"Sekaligus merumuskan alternatif solusi pengembangan budaya Jawa Barat, sehingga akan melahirkan statemen yang dapat mendorong kekuatan kearifan lokal sebagai spirit dalam membangun bangsa dan negara. Gotrasawala juga diharapkan menjadi pengingat semua pihak agar lebih peduli pada sejarah,\" katanya. Selain konferensi tersebut, hadir juga pembicara ahli sejarah Prof Taufik Abdullah yang mengambil topik \"The Issue of Methodology in History\". Ada pula seminar dengan tema West Javanese Arts: Past, Present & Future. (mik)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: