Penyakit Rubella Tidak Mematikan, tapi Ini Bahayanya

Penyakit Rubella Tidak Mematikan, tapi Ini Bahayanya

JAKARTA - Menkes Nila F Moeloek menuturkan vaksin rubella akan menambah jumlah vaksin yang wajib diberikan kepada anak. Sebelumnya, dikenal ada vaksinasi BCG, DPT, TT, Polio, Campak, Hepatitis B, Influenza, dan meningitis yang diberikan sejak bayi. “Ini masih sebagian (diberikan, red), tapi kita akan maju terus,” terangnya di kompleks Istana Kepresidenan kemarin. Menurut Nila, Rubella sebenarnya tidak akan sampai membahayakan nyawa. Namun, dampak yang ditimbulkan adalah kecacatan. Pada anak-anak, dampaknya bisa berupa katarak yang berpotensi berujung pada kebutaan. Tidak jarang pula, bayi lahir dalam kondisi katarak karena ibunya terjangkiti rubella. Rubella juga bisa mengakibatkan tuli pada bayi. Dia meyakini program vaksinasi tersebut bisa mencegah virus rubella menjangkiti masyarakat. Sehingga, ke depan kasus bayi lahir dalam kondisi katarak atau tuli bisa semakin menurun. Direktur Surveilans, Imunisasi, Karantina, dan Kesehatan Matra Kementerian Kesehatan Elizabeth Jane Soepardi menuturkan bahwa kampanye vaksin MR di Indonesia akan dilakukan dua tahap. Tahap pertama dilakukan di Jawa pada Agustus hingga September nanti. Tahap kedua akan dilakukan tahun depan pada bulan yang sama yang akan menyasar anak-anak di luar Jawa. Selanjutnya pemberian vaksin MR dilakukan secara berkelanjutan untuk anak usia sembilan bulan, 18 bulan, dan kelas 1 sekolah dasar. “Memang sasaran adalah anak usia sembilan bulan hingga 15 tahun,” ujar Jane. Kenapa demikian? Sebab anak memiliki kekebalan tubuh yang rendah dibanding dengan orang dewasa. Jane menambahkan jika virus rubella hanya bisa hidup di tubuh manusia. “Kalau manusianya sudah punya antibody, virusnya tidak memiliki inang. Lama-lama akan punah,” ungkapnya, kemarin. Pada Agustu, pemerintah fokus memberikan vaksin MR untuk anak sekolah. Sebab pada bulan yang sama akan diberikan vitamin A. Lalu untuk mereka yang tidak bersekolah, seperti anak jalanan, diberikan pada bulan September. “Nanti puskesmas hingga pustu wajib mencari anak-anak yang belum tervaksin MR pada bulan September,” beber Jane. Hingga tahun depan, pemerintah menargetkan 95 persen anak di Indonesia mendapatkan vaksin MR. Dengan demikian herd community akan tercapai karena sebagian besar anak tervaksin. “Yang lima persen diharapkan juga bisa terlindungi,” bebernya. Sementara itu, di negara tentangga seperti Malaysia, Vaksin MMR sudah lama ditetapkan sebagai bagian dari vaksin wajib yang pemberiannya terjadwal. Dilansir dari situs kempas.malaysia.gov.my, Vaksin dengan jenis berbeda diberikan hampirsetiap bulan mulai ketika lahir hingga menginjak usia 15 tahun. Dalam jadwal pemberian vaksin yang diwajibkan oleh Kementerian Kesehatan Malaysia, bayi yang baru lahir diberikan vaksin BCG atau bacillus calmette guerin (vaksi TBC) dan vaksin hepatitis B dosis pertama. Sementara dosis kedua diberikan saat bayi memasuki usia satu bulan. Pada bulan kedua, bayi diberi dosis pertama dari vaksin DTaP untuk mencegah difteri, pertusis, dan tetanus, vaksin IPV untuk mencegah polio, serta vaksin Hib. Dosis kedua vaksin ini diberikan pada bulan berikutnya. Sementara dosis ketiga diberikan saat bayi berusia 5 bulan. Sedangkan untuk vaksin MMR (Mumps, Measles, Rubella), dosis pertama diberikan saat bayi memasuki usia 1 tahun atau 12 bulan. Bersama dengan vaksin enchepalitis atau peradangan otak. Sementara dosis kedua diberikan pada usia 7 tahun. Nepal dan Maladewa merupakan negara yang mampu mengeliminasi campak dan rubella. Negara tersebut memang sudah menerapkan pemberian vaksin rubella sejak beberapa tahun silam. (lyn/byu/tau)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: