Teror Bom Dikaitkan dengan ISIS, Begini Cerita Alumni Pelajar Suriah Asal Cirebon

Teror Bom Dikaitkan dengan ISIS, Begini Cerita Alumni Pelajar Suriah Asal Cirebon

BANYAK pihak menyebut aksi teror yang terjadi di Indonesia punya hubungan yang kuat dengan Suriah (Syria). Pasalnya, tidak sedikit pelaku-pelaku teror yang tertangkap maupun yang melakukan aksi teror, punya rekam jejak pernah mengunjungi negara yang kini tengah mengalami perang saudara tersebut. Bahkan, Mabes Polri menyebutkan bahwa ada 500 kombatan ISIS asal Indonesia yang pulang dari Suriah. Lalu seperti apa kondisi Suriah sebenarnya sebelum dan sesudah perang saudara? Bagaimana cerita warga Cirebon yang pernah tinggal dan bermukim lama di Suriah? Ya, Radar Cirebon berkesempatan berbincang dengan Muhamad bin Abdullah Abbas, salah satu mantan pelajar yang pernah bermukim empat tahun di Suriah. Muhammad yang saat ini aktif dan tergabung dalam Ikatan Alumni Syam Indonesia (Alsyami) merupakan salah satu intelektual muda Buntet Pesantren Cirebon. Muhammad terakhir kali meninggalkan Suriah pada tahun 2005. Saat itu, suasana Suriah masih tenang dan damai. Bahkan menurut Muhammad, nilai-nilai pluralisme sangat terlihat. Masyarakat Damaskus sangat menghargai perbedaan. Setidaknya gambaran itulah yang dilihat saat berada di Damaskus. “Saya kurang lebih empat tahun. Saat itu, saya menempuh studi di Universitas Damaskus di Fakultas Syariah. Jumlah WNI yang terdiri dari pekerja dan pelajar cukup banyak, ratusan. Saat saya di sana, kondisinya aman,” ujarnya. Menurut Muhammad, Suriah menjadi salah satu pilihan banyak pelajar dari Indonesia untuk menuntut ilmu karena Damaskus dianggap menjadi salah satu gudang ilmu. “Selain Mesir dan timur tengah lainnya, Suriah juga menjadi tujuan pelajar asal Indonesia untuk menuntut ilmu,” imbuhnya. Meskipun saat berada di sana kondisinya sebelum perang, Muhammad mengakui jika gesekan dan percikan kalangan radikal sering muncul dari wilayah-wilayah di perbatasan Damaskus. Terutama dari Gouta, kota yang bisa diakses melalui Turki yang saat ini menjadi basis terakhir gerakan separatis ISIS. “Kalau saat saya di sana, memang ada beberapa WNI yang masuk ke Suriah, tapi tidak menggunakan jalur resmi dan tidak terdata di KBRI. Mereka rata-rata masuk melalui Turki dan bermukim di Gouta,” jelasnya. Sehingga menurut Muhammad, saat ia berada di Damaskus, situasi cenderung aman dan tertib. Isu-isu miring yang berkembang justru lebih banyak muncul dari oposisi pemerintah. Namun demikian, diakuinya sejak dulu sudah ada oposisi yang menggunakan cara-cara frontal dan radikal seperti daulah islamiyah (Dais) dan Islamic State (IS) yang terus-terusan merongrong pemerintah. “Di sana pemerintahnya aktif, gerakan radikal terus diperangi, bahkan paham yang keras seperti Ikhwanul Muslimin dilarang berkembang di Suriah saat itu. Aktivis Dais hampir dipastikan masuk lewat Turki dan menuju Gouta dan Idlib,” katanya. Jumlah mereka pun tidak banyak, namun posisinya saat itu menjadi sulit bagi pemerintah setempat setelah Dais menjadikan warga sipil sebagai tameng. Hal itulah yang menurut pria yang akrab disapa Kang Imat tersebut, membuat pemerintah setempat kesulitan untuk menumpas gerakan radikal yang mencoba merongrong pemerintah. “Sampai saat ini, masih ada warga Cirebon yang belajar di Damaskus, saya masih sering komunikasi dan kondisinya masih belajar seperti sediakala, tidak terganggu dengan tensi politik maupun keamanan yang terjadi,” kilahnya. Terkait teror yang terjadi di Surabaya dan beberapa tempat lainnya, melalui Alsyami, Muhammad mengutuk keras dan mengecam aksi terorisme yang terjadi di Indonesia yang merenggut korban jiwa. Karena cara-cara kekerasan dalam kehidupan tidak dibenarkan ajaran agama mana pun. Apalagi Islam, yang mempunyai visi rahmatan lilalamin. Alsyami menghaturkan rasa duka cita yang sangat mendalam kepada seluruh keluarga korban atas musibah yang memilukan hati. Selain itu, yang tak kalah penting, Alsyami juga mendorong dan mendukung penuh langkah aparat keamanan untuk menindak tegas, mengusut secara cepat dan tuntas gerakan yang memicu terjadinya peristiwa tersebut, dengan cara yang intensif dan preventif. “Kami mengetuk hati DPR RI untuk segera mengesahkan RUU Anti Terorisme. Bila tidak, maka presiden harus mengambil langkah konstitusional dengan menerbitkan Perppu,” paparnya. (dri)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: