Daya Motor

Puncak Kemarau di Kuningan, Petani Diminta Jangan Nekat Tanam Padi

Puncak Kemarau di Kuningan, Petani Diminta Jangan Nekat Tanam Padi

Puncak kemarau di Kuningan mulai terjadi. Diskatan mengimbau petani menyesuaikan pola tanam, menghemat air, dan memanfaatkan bantuan pompa air. Ilustrasi-Freepik-

RADARCIREBON.COM – Memasuki puncak kemarau di Kuningan pada Agustus 2026, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan mengimbau para petani agar lebih bijak dalam menentukan pola tanam

Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi potensi gagal panen akibat berkurangnya pasokan air di sejumlah wilayah.

Imbauan tersebut sejalan dengan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebutkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia sedang mengalami puncak musim kemarau

Kondisi cuaca diperkirakan lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya sehingga berpotensi memengaruhi sektor pertanian, terutama di daerah yang bergantung pada curah hujan.

BACA JUGA:Jadwal Timnas Indonesia vs Singapura di Piala AFF 2026, Laga Hidup Mati Garuda demi Tiket Semifinal

Di Kabupaten Kuningan, perhatian khusus diberikan kepada lahan pertanian tadah hujan dan kawasan yang memiliki keterbatasan sumber air. 

Wilayah-wilayah tersebut dinilai paling rentan mengalami kekeringan sehingga petani diminta menyesuaikan jenis tanaman dengan kondisi di lapangan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, M.Si., menegaskan bahwa keputusan memulai musim tanam tidak boleh hanya berdasarkan jadwal tanam, tetapi juga harus mempertimbangkan ketersediaan air.

Menurutnya, petani sebaiknya tidak memaksakan menanam padi apabila debit air sudah tidak mencukupi. Pasalnya, tanaman padi membutuhkan suplai air yang cukup selama masa pertumbuhan. 

BACA JUGA:Jumlah CPMI Kota Cirebon Meningkat, Malaysia dan Taiwan Jadi Negara Tujuan Utama

BACA JUGA:Haru! Siswi SMKN 1 Luragung Ini Masih Pakai Seragam SMP karena Keterbatasan Ekonomi

Jika dipaksakan, risiko puso atau gagal panen akan meningkat dan berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi bagi petani.

Karena itu, Diskatan mendorong petani untuk menerapkan strategi adaptasi dengan menyesuaikan pola tanam selama musim kemarau. 

Langkah tersebut dinilai menjadi solusi paling realistis agar produktivitas lahan tetap terjaga meski menghadapi cuaca ekstrem.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait