Di TPI Glayem, misalnya, aktivitas pelelangan tampak sepi dan jauh berbeda dibandingkan hari normal.
Minimnya kapal yang mendarat menyebabkan pasokan ikan menurun drastis sehingga transaksi lelang nyaris tidak berlangsung.
Hal tersebut dibenarkan Sekretaris KUD Sri Mina Sari Juntinyuat sekaligus Manajer TPI Glayem, Dedi Aryanto.
Ia menyebutkan, nelayan sudah tidak melaut sekitar satu minggu, sejak Jumat 9 Januari 2026 lalu akibat cuaca buruk berupa angin kencang dan gelombang tinggi.
BACA JUGA:Tahun Lalu Rp1 Miliar Kini Ratusan Juta, Pagu Dana Desa Dikeluhkan Kuwu di Indramayu
"Dampaknya, hampir semua TPI di Indramayu kekurangan pasokan ikan. Karena nelayan tidak melaut, praktis tidak ada ikan yang dilelang,” ujarnya.
Menurut Dedi, di TPI Glayem sendiri lantai lelang tampak kering karena tidak ada ikan yang dilelangkan.
Seluruh nelayan Glayem memilih tidak melaut akibat kondisi cuaca buruk di perairan Laut Jawa.
"Selama menganggur dan tidak ada aktivitas, tidak sedikit nelayan yang terpaksa meminjam ke koperasi atau juragan pemilik kapal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," pungkasnya.
Cuaca buruk yang melanda perairan Laut Jawa selama sekitar satu bulan terakhir, ditandai angin kencang dan gelombang tinggi, membuat ratusan nelayan di Kabupaten Indramayu memilih tidak melaut.
BACA JUGA:Atlet Kembar Asal Indramayu Raih Medali SEA Games 2025, Diganjar Penghargaan Presiden Prabowo
BACA JUGA:Warga Indramayu Syok! Sosok yang Dikira Boneka, Ternyata Jasad Wanita Membusuk
Kondisi ini berdampak langsung pada aktivitas perikanan. Hal itu terlihat dari banyaknya kapal yang hanya bersandar di dermaga, serta menurunnya pasokan ikan ke Tempat Pelelangan Ikan.
Seperti terlihat di Pelabuhan Dadap, Kecamatan Juntinyuat, Jumat (16/1), ratusan kapal nelayan tidak berlayar, dan memilih bersandar di dermaga.
Mayoritas nelayan menghentikan sementara aktivitas melaut karena kondisi cuaca yang dinilai tidak aman.