Sementara itu, Samsul, penyintas kusta yang telah didiagnosis sejak 1999, membagikan pengalaman pahitnya menghadapi diskriminasi akibat stigma dan kurangnya pemahaman masyarakat.
Ia mengaku sempat dijauhi oleh lingkungan sekitar karena kusta dianggap penyakit berbahaya dan menular dengan mudah.
BACA JUGA:Menkes Luncurkan Sistem Perizinan Terintegrasi, Kini Masa Berlaku STR Seumur Hidup
“Awalnya teman-teman menjauhi saya karena mereka tidak tahu. Tapi setelah saya jelaskan dan mereka melihat saya baik-baik saja, lama-kelamaan mereka bisa menerima dan berteman kembali, bahkan sampai saya kuliah,” tuturnya.
Samsul menilai penyebaran informasi yang sederhana dan mudah dipahami sangat penting, terutama kepada guru dan masyarakat umum.
Menurutnya, edukasi sejak dini dapat memutus rantai stigma bahwa kusta adalah penyakit menakutkan dan tidak bisa disembuhkan.
“Kalau informasinya benar dan mudah dimengerti, orang tidak akan takut lagi. Kusta itu bisa disembuhkan,” pungkasnya.
Melalui kampanye penghapusan stigma dan peningkatan edukasi publik, Kementerian Kesehatan berharap masyarakat tidak lagi mengucilkan penderita kusta, melainkan mendorong mereka untuk segera mendapatkan pengobatan agar Indonesia dapat mencapai target eliminasi kusta secara berkelanjutan. (*)