Hadiri Bukber di Cirebon, Shinta Nuriyah Ajak Perkuat Moral dan Toleransi

Sabtu 21-02-2026,02:01 WIB
Reporter : Moh Junaedi
Editor : Rusdi Polpoke

CIREBON, RADARCIREBON.COM – Suasana hangat dan penuh keakraban terasa dalam kegiatan buka puasa bersama yang dihadiri Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid di Budi Darma Suci, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon, Jumat 20 Februari 2026.

Mengangkat tema “Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi”, acara ini tak sekadar menjadi agenda rutin Ramadan, tetapi juga ruang refleksi spiritual dan kebangsaan di tengah berbagai ujian yang tengah dihadapi Indonesia.

Di hadapan ratusan warga yang memadati lokasi acara, Shinta Nuriyah mengaku bersyukur bisa kembali mengunjungi Cirebon setelah setahun lamanya.

BACA JUGA:Kota Cirebon Kembali Jadi Sorotan, Tokoh Buddha Thailand Puji Toleransi Antarumat Beragama

“Alhamdulillah saya kembali mengunjungi Cirebon setelah setahun yang lalu. Dengan kondisi fisik saya dan kondisi negara yang bisa dikatakan sedang tidak baik-baik saja, dengan banyaknya bencana yang terjadi,” ujarnya.

Istri Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid, itu menegaskan bahwa buka puasa bersama bukan hanya tradisi tahunan, melainkan momentum mempererat silaturahmi, memperkuat nilai kemanusiaan, dan menjaga toleransi antarumat beragama.

“Saya bangga dengan warga Cirebon yang begitu antusias untuk bersama-sama saling menyapa dan bersilaturahmi,” tuturnya.

Dalam tausiyahnya, Shinta Nuriyah mengingatkan bahwa puasa tidak diukur dari lamanya hari yang dijalani, melainkan dari kualitas ibadah yang dilakukan.

“Puasa tidak dihitung dari hari, melainkan kualitas puasa itu sendiri. Apakah puasa hanya menjadi ibadah tahunan, atau benar-benar karena Allah?” katanya.

Menurutnya, esensi puasa terletak pada pembentukan akhlak dan budi pekerti. Nilai-nilai seperti kejujuran, keadilan, kebijaksanaan, serta sikap saling menghormati harus menjadi cerminan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA:Pemkot Cirebon Tekankan Pentingnya Membumikan Toleransi hingga ke Akar Rumput

“Puasa mengajarkan kejujuran, adil, bijaksana, dan saling hormat-menghormati sesama. Inilah yang harus kita jaga,” tegasnya.

Pesan tersebut relevan dengan kondisi bangsa yang tengah menghadapi berbagai persoalan, baik dari sisi bencana alam maupun dinamika demokrasi.

Shinta Nuriyah juga menyinggung berbagai musibah yang melanda Indonesia dalam beberapa waktu terakhir, mulai dari banjir, tanah longsor, kebakaran, hingga bencana kemanusiaan lainnya.

Ia mengajak masyarakat untuk memaknai setiap peristiwa sebagai bagian dari pelajaran hidup. Dalam pandangannya, Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa setiap bencana memiliki hikmah.

Kategori :