BACA JUGA:Pemerintah Jawab Isu Harga BBM Naik 1 April 2026, Jangan Panik!
Menurutnya, apabila dalam pelaksanaan kegiatan ditemukan potensi kerusuhan, maka seluruh rangkaian acara harus segera dihentikan, termasuk iring-iringan musik atau arak-arakan.
Bahkan, ia menegaskan bahwa jika kejadian serupa terulang dan menimbulkan korban atau keluhan masyarakat, maka ke depan kegiatan karnaval tidak akan lagi diizinkan di Desa Kalimaro.
Sebagai alternatif, Pemdes Kalimaro mendorong masyarakat untuk kembali menghidupkan tradisi takbir keliling yang dinilai lebih sarat nilai religius dan kebersamaan.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat, khususnya para pemuda, didorong untuk berkreasi dengan menghadirkan berbagai inovasi, seperti miniatur masjid, ornamen Islami, hingga tema-tema menarik yang dapat dilombakan.
“Takbir keliling tetap kami perbolehkan, bahkan kami dorong agar lebih kreatif. Nantinya bisa dibuat perlombaan antarblok atau dusun untuk menambah semarak suasana Lebaran,” jelasnya.
Rokhmat juga menyatakan komitmennya untuk memberikan dukungan, termasuk dalam bentuk anggaran pribadi guna menunjang kegiatan positif tersebut.
BACA JUGA:TNI Gugur di Lebanon, Indonesia Desak Rapat Darurat Dewan Keamanan PBB
Ia berharap momentum Hari Raya Idulfitri dapat diisi dengan kegiatan yang mencerminkan rasa syukur dan kebersamaan, terutama bagi generasi muda.
“Kita ingin anak-anak hingga masyarakat umum merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa dengan kegiatan yang positif dan penuh makna, bukan sebaliknya,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengaku prihatin terhadap kondisi generasi saat ini setelah melihat langsung di lapangan.
Oleh karena itu, kebijakan ini diharapkan mampu menjadi langkah edukatif agar masyarakat tidak lagi terjebak dalam kegiatan yang menyimpang dari nilai-nilai budaya dan keagamaan.
“Ini bukan sekadar larangan, tapi upaya menjaga tradisi agar tetap pada jalurnya."
"Jangan sampai momen yang seharusnya diisi dengan takbir dan rasa syukur justru tercoreng oleh hal-hal yang tidak semestinya,” tegasnya. (*)