Pekik Wanadri di Atas Pusara Sang Pendiri
Ketua DP XXIX, Tomy Hosni Mubaraq (tengah) dan anggota Wanadri melepas Kang Yayat ke peristirahatan terakhir.-Mochamad Rona Anggie-
Oleh: Mochamad Rona Anggie
RADARCIREBON.COM - Mereka berangkulan. Membentuk lingkaran kecil.
Teriakan, “Wanadri!” jadi penutup prosesi pemakaman Achmad Hidayat (W 006 PEN); salah satu pendiri perhimpunan pendaki gunung dan penempuh rimba tertua di Indonesia.
Kang Yayat mengembuskan napas terakhir di RS Putra Bahagia (Siloam) pukul 15.04 WIB, Selasa (1/9/2026).
“Dini hari bapak sempat jatuh pas mau ke kamar mandi,” kata anak bungsunya, Abu Arina Wawan (44). “Paginya kami bawa ke IGD. Siang masuk ICU, sore berpulang.”
BACA JUGA:Gunung Ciremai Ditutup Mulai 6 September 2026, Booking Online Pendakian Dihentikan
Saya takziah ke rumah duka di Jalan Gunung Bromo 2 Kompleks Yuka no. 43, Harjamukti, Kota Cirebon, sesaat sebelum jenazah dimandikan.
Anggota Wanadri, Yan “Hobo” Hendriyanto (W 721 ERA), saya jemput kemudian di kediamannya Perumnas Jalan Nuri.
Senior Wanadri yang tinggal di Perumnas Jalan Gunung Agung, Herry Gunawan (W 366 RL) dan istrinya, sudah ada di rumah mendiang Kang Yayat, ketika saya dan Kang Yan datang.
Mereka turut membopong jenazah untuk dimandikan di halaman rumah. Sementara Kang Mustofa (W 1270 ERA), hadir setelah magrib.
BACA JUGA:5 Rekomendasi Wisata Alam di Kuningan 2026 yang Hits dan Instagramable
BACA JUGA:Suasana Liburan di Bukit Baros Ciamis, Wisata Alam yang Bikin Hati Tenang dan Foto Instagramable
Bagi anggota Wanadri yang tinggal di Cirebon, Kang Yayat adalah “pusaka”.
Dari enam pendiri Wanadri, tersisa Harrie Hardiman Soebari (W 001 PEN) yang domisili di Bandung, dan Kang Yayat di “Kota Udang”. Relasi keduanya adalah paman-keponakan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

