Ratusan Tahun Tradisi Grebeg Syawal Keraton Kanoman Cirebon Masih Dilestarikan, Ini Dia Ritual yang Dijalankan

Ratusan Tahun Tradisi Grebeg Syawal Keraton Kanoman Cirebon Masih Dilestarikan, Ini Dia Ritual yang Dijalankan

Kesultanan Kanoman Cirebon kembali melaksanakan ritual Grebeg Syawal di komplek Astana Gunung Sembung, Rabu (17/4/2024). Foto:-Dedi Haryadi-Radarcirebon.com

Ratusan Tahun Tradisi Grebeg Syawal Keraton Kanoman Cirebon Masih Dilestarikan, Ini Dia Ritual yang Dijalankan

CIREBON, RADARCIREBON.COM – Tradisi Grebeg Syawal Keraton Kanoman Cirebon masih dilestarikan.

Grebeg Syawal adalah tradisi Kesultanan Kanoman Cirebon yang sudah ada sejak berabad-abad yang lalu.

Ini adalah ritual budaya sekaligus keagamaan yang rutin dilakukan di Kareaton Kanoman Cirebon.

Prosesi ritual yang ditahbiskan dalam bentuk ‘pengakuan’ terhadap silsilah para leluhur dan perhelatan Kenduri atau selametan. 

BACA JUGA:Jalan Rusak Cirebon Timur Makin Parah, di Ruas Jalan Ini Pengendara Motor Sering Terjatuh

Di dalam prosesi Grebeg Syawal ini juga dipanjatkan doa-doa demi keselamatan keluarga Keraton Kanoman Cirebon, serta mendoakan Raja-raja Cirebon, khususnya raja-raja Kesultanan Kanoman yang telah wafat.

Nah, pasca Lebaran Idul Fitri tahun 2024 ini, Kesultanan Kanoman Cirebon kembali melaksanakan tradisi Grebeg Syawal. 

Dipimpin langsung oleh Sultan Kanoman XII, Kanjeng Gusti Sultan Raja Muhammad Emirudin, yang dalam hal ini diwakili oleh Gusti Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran, Patih Kesultanan Kanoman. 

Ratu Raja Arimbi Nurtina selaku Sekretaris Kesultanan Kanoman kepada radarcirebon.com mengungkapkan, esensi ritual ini adalah ziarah kubur.

BACA JUGA:Warga Bertanya Kapan Jalan Tegalsari-Lemahtamba Diperbaiki, Begini Jawaban Kabid Binamarga Kabupaten Cirebon

Tradisi ziarah kubur alias nyekar ini dilaksanakan  ke makam Raja-Raja Kesultanan Kanoman di komplek Astana Gunung Sembung (komplek makam Sunan Gunung Jati).

"Sekaligus silaturahmi antara sultan, keluarga dan masyarakat dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri atau kita kenal dengan Hari Raya Kupat setelah 6 (enam) hari berpuasa sunnah di bulan Syawal," ungkapnya.

Dijelaskan Ratu Arimbi, prosesi ini diawali dengan ‘grebeg’ yaitu bersamanya keluarga sultan di Pendopo Jinem Keraton Kanoman. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: