7 Jam Operasi, Sudah Punya Kelopak Mata dan Bibir

7 Jam Operasi, Sudah Punya Kelopak Mata dan Bibir

SURABAYA- Hari pertama pasca operasi wajah selama tujuh jam, Tutik Handayani masih berada di ruang Intensive Care Unit (ICU) RS Universitas Airlangga Surabaya. Dia kini memiliki kelopak mata dan bibir bagian atas. Jika dibandingkan ketika sebelum operasi, wajah gadis 16 tahun itu sudah hampir menyerupai orang kebanyakan. Operasi itu memang baru memperbaiki jaringan di wajah Tutik. “Kami hanya menggunakan jaringan di wajah saja,” ucap dr Indri Lakhsmi Putri SpBP-RE(KKF), dokter yang menangani Tutik. Misalnya saja untuk membentuk bibir bagian atas, dokter menggunakan daging bibir yang berlebih. Bibir tersebut dibuat bukan hanya sekadar menempelkan bibir baru. Tim dokter juga melakukan pembedahan hingga ke daerah rongga mulut. Tujuannya agar bibir bisa difungsikan seperti kondisi normal. Dengan memiliki bibir bagian atas, gigi Tutik yang semula terlihat kini sudah tertutupi. Yang paling tersulit adalah membentuk jaringan di sekitar hidung dan pipi kiri. Pertama, tim dokter harus membuka jaringan lunak seluruh pipi kiri. Kemudian, jaringan yang berlebih yang menempel di hidung dan mata dibuang. Dokter kemudian menjahit kembali bagian tersebut. “Kulit manusia itu elastis. Jadi bisa ditarik,” ujar alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga itu. Penarikan itu menjadi sulit lantaran harus memastikan pembuluh darah tidak rusak. Jika rusak, maka kulit akan mati. Membusuk. Untuk area pipi kiri, dokter hanya membetulkan sedikit jaringan saja. Tim dokter hanya membuka sedikit jaringan pipi kanan, untuk menarik keatas. Tujuannya agar mata kanan Tutik lebih naik dan bisa simetris dengan mata kirinya. Mata kiri Tutik lebih tinggi dari mata kanannya. Di sisi kanan hidung Tutik terlihat menggembung. Isinya adalah jaringan lemak. ”Kami tidak membuang karena ini jaringan bagus,” kata Putri. Untuk mata kiri Tutik, bagian kelopak atas diturunkan. Dokter harus memisahkan kelopak itu dengan jaringan dibawahnya. Tujuannya selain agar kulit kelopaknya bisa diturunkan, juga untuk memberikan rongga di matanya. Pembuatan rongga, juga dilakukan untuk mata kanannya. Sebab rencananya Tutik akan mengenakan mata palsu. ”Beruntungnya Tutik masih memiliki bulu mata, sehingga mendekati mata normal,” tuturnya. Operasi tahap satu ini sebenarnya belum tuntas. Dokter seharusnya masih membenahi bagian bibir Tutik. Namun opsi tersebut tidak dipilih tim dokter, sebab akan membutuhkan waktu yang lebih banyak. Hal itu berarti pemberian bius juga harus lebih banyak. ”Untuk anak seusia Tutik, tidak baik pemberian bius yang terlalu banyak,” ujar Putri. Untuk itu tim dokter berencana melakukan operasi lanjutan. Selain untuk membenahi jaringan lunak yang belum maksimal, juga akan membenahi daerah dalam mulut. Langit-langit Tutik bolong. Itu yang membuat suaranya sengau. Kedepan akan dibuatkan langit-langit. ”Karena dia dioperasi setelah bisa berbicara maka dia akan tetap sengau,” beber dokter yang juga praktik di RSUD dr Soetomo, Surabaya itu. Nah untuk merapikan gigi, akan dilakukan pada operasi selanjutnya. Rencananya sekaligus membenahi susunan tulang di rahang atasnya. “Akan banyak operasi untuk kelanjutannya. Namun untuk memiliki wajah persis orang kebanyakan tidak bisa,” ujar Putri. Sementara itu Fatmawati, ibu Tutik, mengaku lega anaknya sudah dioperasi. Sebelumnya pihaknya sempat menunda operasi lantaran tidak mendapat persetujuan keluarga. Alasannya, operasi tidak membuat gadis asal Lumajang itu bisa melihat. Saat tidak mendapatkan persetujuan, Tutik pun sempat putus asa. ”Dia sempat mengancam tidak mau salat kalau tidak operasi,” tuturnya. Pasca operasi, perempuan 33 tahun, itu berharap putrinya akan mendapat kehidupan yang lebih layak. Dia tak perlu lagi melarang Tutik keluar karena takut kalau tetangganya mengejek. Selain itu, dia menginginkan agar Tutik bisa bersekolah. ”Dari dulu Tutik sebenarnya mau sekolah,” ungkap Fatmawati. (lyn)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: