Wabah di Kawasan Amerika Latin Makin Tajam

Wabah di Kawasan Amerika Latin Makin Tajam

JAKARTA - Korban kematian global dari coronavirus mendekati 400.000 dalam sepekan. Ini merupakan data terbaru yang dirilis WHO Minggu (7/6). Angka terbesar berada di wilayah Amerika Latin. Atas kondisi ini, negara-negara penghasil minyak itu sepakat untuk memperpanjang pengurangan produksi untuk mengimbangi jatuhnya harga yang disebabkan oleh pandemi.

Brasil misalnya, sekarang memiliki angka kematian tertinggi ketiga di dunia atas penyebaran virus tersebut. Dan dampaknya, Presiden Jair Bolsonaro mengancam akan meninggalkan WHO karena munculnya perbedaan ideologis. Langkah ini pun mengikuti jejak Amerika Serikat yang meninggalkan WHO.

”Kami sangat terpukul dengan kerusakan ekonomi yang diakibatkan lockdown. Industri minyak sangat terpukul,” tegas Jair Bolsonaro kepada AFP.

Angka kematian Brasil melewati 35.000 ketika Bolsonaro menggemakan kritik terhadap WHO oleh Trump, yang mengatakan AS akan menggunduli organisasi itu karena terlalu dekat dengan China.

”Amerika Serikat meninggalkan WHO, dan kami sedang mempelajari itu, di masa depan. Entah WHO bekerja tanpa bias ideologis, atau kami juga pergi,” imbuhnya.

Kondisi Brasil pun diikuti negara lainnya. Wabah Covid-19 di Meksiko, Peru, dan Ekuador naik tajam. Sementara di Chili, kematian telah meningkat lebih dari 50 persen dalam sepekan terakhir.

”Pembekuan industri minyak sementara harus dilakukan. Menyusul kondisi sulit suplai untuk masuk ke negara lain,” imbuhnya.

Pada hari yang sama, OPEC sepakat memangkas produksi hingga Juli, yang bertujuan untuk mendorong pemulihan harga minyak setelah mereka terpukul oleh penurunan permintaan yang disebabkan oleh pembatasan virus.

Pemerintah juga semakin fokus memperbaiki kerusakan ekonomi, dan bahkan negara-negara Eropa yang terpukul sekarang membuka perbatasan mereka dan memungkinkan orang untuk kembali bekerja. ”Tetapi data suram dari dua ekonomi terbesar di Asia menyoroti jalan panjang menuju pemulihan,” jelasnya.

Krisis kesehatan terburuk dalam lebih dari satu abad telah menginfeksi hampir 6,9 juta secara global dan memaksa puluhan juta orang kehilangan pekerjaan hanya di Amerika Serikat (AS), negara yang paling terpukul di dunia.

Kondisi ini pun memantik Presiden Donald Trump untuk kembali angkat bicara. ”Kami memiliki ekonomi terbesar dalam sejarah dunia. Dan kekuatan itu memungkinkan kami melewati pandemi yang mengerikan ini. Sebagian besar melalui, saya pikir kami melakukannya dengan sangat baik,” katanya kepada wartawan.

Sedangkan Uni Eropa berencana akan membuka kembali perbatasan bagi para pelancong dari luar kawasan pada awal Juli, setelah beberapa negara di dalam blok itu dibuka kembali untuk para pengunjung Eropa.

Di Prancis, Istana Versailles juga telah dibuka kembali, meski tanpa turis AS dan China yang biasanya merupakan sepertiga dari pengunjungnya.

Negara ini juga menandai peringatan pendaratan D-Day 1944 dengan sebagian kecil dari kerumunan besar yang terlihat pada tahun-tahun sebelumnya, karena pembatasan jarak sosial yang ketat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: