Persetujuan Pihak Bertikai Jadi Kunci
BACA JUGA:Jembatan Desa Munjul Ambruk Diterjang Luapan Sungai Cikanci, Warga dan TNI Bangun Jembatan Darurat
Tak hanya soal mandat, TB Hasanuddin juga menekankan pentingnya legitimasi dari semua pihak yang terlibat konflik.
Berbekal pengalamannya dalam misi perdamaian di Irak dan Kuwait, ia menegaskan bahwa persetujuan seluruh pihak adalah syarat mutlak keberhasilan operasi perdamaian.
Situasi di Gaza saat ini masih diwarnai ketegangan antara Hamas dan Israel.
Di sisi lain, struktur BoP tidak mencantumkan perwakilan Palestina, sementara Israel dilibatkan dalam mekanisme tersebut.
Bahkan, seorang petinggi Hamas dilaporkan menyatakan penolakan terhadap kehadiran ISF di wilayah Palestina.
Bagi TB Hasanuddin, kondisi ini menunjukkan bahwa legitimasi ISF belum sepenuhnya diterima semua pihak.
Jika pengiriman pasukan dipaksakan tanpa kesepakatan menyeluruh, prajurit TNI berisiko terjebak di tengah eskalasi konflik bersenjata.
“Risikonya bukan hanya soal diplomasi, tapi juga keselamatan prajurit. Nyawa menjadi taruhan,” ujarnya mengingatkan.
Beban Anggaran di Tengah Tantangan Ekonomi
Aspek ketiga yang menjadi perhatian adalah biaya operasional. Mengirim ribuan pasukan ke luar negeri tentu memerlukan anggaran besar, mulai dari logistik, perlengkapan, hingga dukungan teknis lainnya.
TB Hasanuddin mengingatkan agar pemerintah berhitung matang, mengingat kondisi ekonomi domestik masih menghadapi sejumlah tantangan.
Ia menegaskan dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina adalah amanat konstitusi.
Namun, cara yang ditempuh harus tetap mengedepankan hukum internasional, prinsip kehati-hatian, dan kepentingan nasional.
“Solidaritas tetap penting, tetapi keselamatan warga negara dan prajurit TNI tidak boleh diabaikan,” katanya.