Hal ini berpotensi membuat kemarau terasa lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal.
BACA JUGA:Laporan Bupati Majalengka: Ekonomi Tumbuh, Kemiskinan Turun
BACA JUGA:Perampokan Minimarket di Majalengka, Modus Beli Kopi Berujung Penodongan
Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena dapat berdampak pada berbagai sektor, terutama ketersediaan air bersih dan pertanian.
Risiko kekeringan meteorologis pun meningkat seiring berkurangnya curah hujan.
Selain itu, dampak lanjutan yang mungkin terjadi meliputi terganggunya sistem irigasi, penurunan produktivitas pertanian, hingga meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama di daerah rawan kering.
BMKG mengimbau pemerintah daerah serta masyarakat untuk melakukan langkah antisipasi sejak dini.
Beberapa upaya yang bisa dilakukan antara lain pengelolaan sumber daya air secara lebih efisien, penyesuaian pola tanam, serta peningkatan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan.
Dengan mitigasi yang tepat, diharapkan dampak dari kemarau panjang 2026 dapat diminimalkan, sehingga sektor vital seperti pertanian dan kebutuhan air masyarakat tetap terjaga.