Sungai Aare Swiss Versi Bandung Barat, Sanghyang Kenit Sungai Citarum Purba, Peninggalan Dewa

Sungai Aare Swiss Versi Bandung Barat, Sanghyang Kenit Sungai Citarum Purba, Peninggalan Dewa

Sanghyang Kenit yang merupakan aliran Sungai Citarum Purba, kini mendapat julukan baru yang viral yakni Sungai Aare Swiss versi Bandung Barat.-@doyanbangetjajan/ig-radarcirebon.com

BANDUNG BARAT, RADARCIREBON.COM - Sanghyang Kenit kini memiliki julukan baru yang viral yakni, Sungai Aare versi BANDUNG BARAT.

Air dari sungai yang mengalir di Kampung Cisameng, Desa Rajamandala Kulon, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat itu, terihat begitu jernih dengan warna kehijauan dan kebiruan.

Pemandangan ala pegunungan membuatnya kini berjuluk Sungai Aare versi Bandung Barat.

Salah satu unggahan viral tersebut adalah dari akun Instagram Info Jawa Barat yang mengunggah ulang video akun Doyanbangetjajan.

BACA JUGA:1 Korban Meninggal Dunia, Kecalakaan Maut di Jalur Pantura Kanci Kabupaten Cirebon Hari Ini

Video tersebut cukup mewakili dan dapat menangkap keindahan dari kawasan Sanghyang Kenit yang merupakan Sungai Citarum Purba.

Di lokasi itu, terdapat beberapa objek wisata yakni Sanghyang Poek, Sanghyan Heuleut dan tentunya Sanghyang Kenit.

Wakil Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sanghyang Kenit, Dodi Angsapibi menjelaskan, Sanghyang Kenit merupakan bagian dari Sungai Citarum Purba.

Daerah aliran sungai (DAS) ini memilik hulu di Cisanti, Kabupaten Bandung dan bermuara di Waduk Cirata. Karenanya, aliran sungai ini masuk dalam program Citarum Harum.

BACA JUGA:Sekadar Tanya, Dana Swadaya Desa Rp186 Juta per Tahun dari Al Zaytun untuk Apa?

"Menurut cerita ini peninggalan para dewa. Jadi Sanghyang Kenit adalah tempat sakral yang tak kasat mata," kata Dodi, dilansir dari laman Citarum Harum.

Dijelaskan dia, kata 'sang' dipakai untuk menghargai para leluhur. Sedangkan Hyang berasal dari kata Bahasa Sunda yang berarti menyepi atau dalam tindakan dikenal dengan semedi.

"Kenit itu katanya kambing hitam yang punya sabuk putih melingkar. Masyarakat percaya domba kenit, dulu disembelih di lokasi ini. Jadilah dinamai Sanghyang Kenit," jelasnya.

Oleh karena itu, untuk menghormati leluhur dan kearifan lokal, tentunya wisatawan perlu untuk menjaga kebersihan dan ketertiban. Apalagi aliran sungai dari Sanghyang Kenit digunakan untuk pengairan areal persawahan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: