Tidak Kalah dengan Eropa, Amerika dan Afrika, Inilah Bangunan Kuno Tertinggi di Asia Tenggara

Tidak Kalah dengan Eropa, Amerika dan Afrika, Inilah Bangunan Kuno Tertinggi di Asia Tenggara

Kuil Thatbinnyu, terletak di sudut tenggara tembok kota Bagan, Myanmar dan dibangun pada tahun 1144 M oleh Raja Alaung Sithu, cucu Raja Kyansittha. -Istimewa-

CIREBON, RADARCIREBON.COM – Kawasan Asia Tenggara tak kalah mentereng dengan kawasan lainnya dalam hal peninggalan sejarah masa lampau.

Peradaban kuno di Asia Tenggara sudah dimulai belasan bahkan ratusan abad sebelum masehi. Hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya penemuan runtuhan kerajaan, candi dan peninggalan lainnya yang masih berdiri kokoh.

Semisal, Candi Borobudur dan Prambanan di Indonesia. Kemudian, Angkor Wat di Kamboja dan Ayuttaya di Thailand.

Ketiga contoh itu merupakan hasil buah karya peradaban masyarakat Asia Tenggara kuno yang saat ini terbagi kedalam 11 negara.

BACA JUGA:Kapal Titanic Dibuat Hanya Karena Adu Gensi Para Kapitalis?

Dalam peradaban tersebut, menghasilkan bangunan kuno yang menjulang tinggi dan masih berdiri hingga saat ini.

Berikut daftar bangunan kuno bersejarah tertinggi di Asia Tenggara, di mana satu dari Indonesia.

  • Bagan (Myanmar)

Terletak di Myanmar Tengah, hanya 4 jam perjalanan dari Mandalay, Bagan adalah salah satu situs arkeologi terbesar di dunia.  Dalam kota bersejarah ini, terdapat 2.200 lebih kuil besar dan kecil.

Bagan adalah ibu kota pertama Kerajaan Pagan antara abad ke-9 hingga ke-13. Lebih dari 10.000 kuil, pagoda, dan biara Buddha dibangun selama masa kejayaan Kerajaan antara abad ke-11 hingga ke-13.

Saat ini, sekitar 2.200 candi dan pagoda masih bertahan dan dirawat dengan hati-hati oleh pemerintah.

Salah satu bangunan tertinggi di kawasan Bagan ini adalah Kuil Thatbinnyu, terletak di sudut tenggara tembok kota Bagan dan dibangun pada tahun 1144 M oleh Raja Alaung Sithu, cucu Raja Kyansittha.

BACA JUGA:Selain Melapor, Kuasa Hukum Finalis Miss Universe Indonesia juga Bawa Barang Bukti

Ini adalah candi Bagan tertinggi dan menjulang setinggi 66 meter di atas permukaan tanah.

  •  Angkor Wat (Kamboja)

Angkor adalah salah satu situs arkeologi terpenting di Asia Tenggara yang terletak di Provinsi Siem Reap, Kamboja. Membentang lebih dari 400 Kilometer persegi, termasuk kawasan hutan.

Taman Arkeologi Angkor berisi sisa-sisa megah dari berbagai ibu kota Kerajaan Khmer, dari abad ke-9 hingga ke-15.

Mereka termasuk Kuil Angkor Wat yang terkenal setinggi 65 meter di Angkor Thom dan Kuil Bayon dengan dekorasi pahatannya yang tak terhitung jumlahnya.

Oleh UNESCO, Angkor Wat termasuk kedalam keajaiban dunia yang perlu dilindungi.

Arsitektur dan tata letak ibu kota berturut-turut menjadi saksi tatanan dan peringkat sosial tingkat tinggi di dalam Kerajaan Khmer.

BACA JUGA:Inilah Klarifikasi National Miss Universe Indonesia Terkait Adanya Laporan Dugaan Pelecehan Seksual Polisi

Oleh karena itu Angkor adalah situs utama yang mencontohkan nilai-nilai budaya, agama dan simbol, serta mengandung signifikansi arsitektural, arkeologis dan artistik yang tinggi.

  • Candi Prambanan (Indonesia)

Candi Prambanan merupakan candi Hindu yang terbesar dan tertinggi di Indonesia. Sampai saat ini belum dapat dipastikan kapan candi ini dibangun dan atas perintah siapa.

Namun, dugaan kuat jika  Candi Prambanan dibangun sekitar pertengahan abad ke-9 oleh raja dari Wangsa Sanjaya, yaitu Raja Balitung Maha Sambu.

Dugaan tersebut didasarkan pada isi Prasasti Syiwagrha yang ditemukan di sekitar Prambanan dan saat ini tersimpan di Museum Nasional di Jakarta.

Prasasti berangka tahun 778 Saka (856 M) ini ditulis pada masa pemerintahan Rakai Pikatan.

Denah asli Candi Prambanan berbentuk persegi panjang, terdiri atas halaman luar dan tiga pelataran, yaitu Jaba (pelataran luar), Tengahan (pelataran tengah) dan Njeron (pelataran dalam).

BACA JUGA:Bagikan Pengalaman Asyiknya Kerja di BUMN, PT PP Goes to UNPAR

Di pelataran dalam terdapat 2 barisan candi yang membujur arah utara selatan. Di barisan barat terdapat 3 buah candi yang menghadap ke timur.

Candi yang letaknya paling utara adalah Candi Wisnu, di tengah adalah Candi Syiwa, dan di selatan adalah Candi Brahma.

Di barisan timur juga terdapat 3 buah candi yang menghadap ke barat. Ketiga candi ini disebut candi wahana (wahana = kendaraan), karena masing-masing candi diberi nama sesuai dengan binatang yang merupakan tunggangan dewa yang candinya terletak di hadapannya.

Candi yang berhadapan dengan Candi Wisnu adalah Candi Garuda, yang berhadapan dengan Candi Syiwa adalah Candi Nandi (lembu), dan yang berhadapan dengan Candi Brahma adalah Candi Angsa.

Dengan demikian, keenam candi ini saling berhadapan membentuk lorong. Candi Wisnu, Brahma, Angsa, Garuda dan Nandi mempunyai bentuk dan ukuran yang sama, yaitu berdenah dasar bujur sangkar seluas 15 m2 dengan tinggi 25 m.

BACA JUGA:Untung Ketemu Sosok Ini, Dafi Pendaki Remaja Asal Kuningan Akhirnya Pulang dengan Selamat

Di ujung utara dan selatan lorong masing-masing terdapat sebuah candi kecil yang saling berhadapan, yang disebut Candi Apit.

  • Pha That Luang (Laos)

Pha That Luang (Stupa Besar) terletak Ibukota negara Laos, yakni Vientiane. Kota terbesar di negara ini merupakan pelabuhan sungai utama di sungai Mekong, yang menandai perbatasan Laos-Thailand.

Pha That Luang adalah simbol nasional Laos. Kompleks stupa dengan dua candi yang tersisa di Wat That Luang Nuea dan Wat That Luang Tai terletak sekitar 5 Km timur laut pusat Vientiane di ujung Jalan Pha That Luang.

Menurut legenda, ketika Raja Setthathirath (Xaysettha) memindahkan ibu kota Laos dari Luang Prabang ke Vientiane, dia memerintahkan pembangunan stupa di lokasi reruntuhan kuil Mon-Khmer abad ke-13.

Monumen Buddha setinggi 45 meter berlapis emas ini dibangun pada abad ke-16.

Pemberontakan Lao yang gagal pada tahun 1826 dalam upaya untuk mengakhiri kedaulatan Siam, memicu pembalasan oleh Siam (Thailand) dan menyebabkan kehancuran kota Vientiane dan kerusakan Pha That Luang.

BACA JUGA:Selalu Nomor 1, Jawa Barat Tak Tertandingi, 5 Tahun Terakhir Realisasikan Investasi Rp685,35 Triliun

Orang Laos kemudian mengembalikannya ke desain aslinya.

  • Duong Long (Vietnam)

Menara Duong Long, sebelumnya dikenal sebagai Van Tuong, atau dalam bahasa Prancis, Menara Gading adalah satu set dari tiga Cham yang berdiri bebas.

Menara pusat berdiri setinggi 24 meter, menara batu bata pramodern tertinggi di Asia Tenggara. Sedangkan menara yang mengapit menjulang setinggi 22 meter.

Ketiga menara tersebut disusun berjajar, semuanya menghadap ke timur. Semuanya memiliki desain yang mirip, meskipun detailnya berbeda.

Semua menara Cham dibangun dari batu bata dengan berbagai tingkat aksen batu. Di Duong Long, pahatan batunya sangat melimpah, menunjukkan bahwa ini adalah tempat ritual yang penting.

BACA JUGA:Selalu Nomor 1, Jawa Barat Tak Tertandingi, 5 Tahun Terakhir Realisasikan Investasi Rp685,35 Triliun

Anne-Valérie Schweyer menyatakan bahwa bangunan batu yang berat itu merupakan pengaruh dari Kerajaan Khmer di dekatnya, yang diketahui sering berhubungan dengan Cham.

Sebagai bagian dari pertukaran budaya ini, beberapa pangeran Cham mempraktikkan Buddhisme Tantra Mahayana (mirip dengan Raja Khmer Jayawarman VII).

Oleh karena itu, Duong Long tetap mungkin merupakan situs Buddhis Tantra, tetapi argumen tersebut tidak dapat diselesaikan secara definitif tanpa penemuan arkeologis di masa depan, karena tidak ada patung asli yang pernah disimpan di menara yang bertahan hingga hari ini.

  •  Ayyuttaya (Thailand)

Kota Bersejarah Ayutthaya, didirikan pada tahun 1350, adalah ibu kota kedua Kerajaan Siam.

Berkembang dari abad ke-14 hingga ke-18, selama waktu itu tumbuh menjadi salah satu daerah perkotaan terbesar dan paling kosmopolitan di dunia dan pusat diplomasi dan perdagangan global.

BACA JUGA:Heboh, Miss Universe Indonesia Diduga Disuruh Foto Telanjang saat Body Check, Korban Lapor Polisi

Ayutthaya berlokasi strategis di sebuah pulau yang dikelilingi oleh tiga sungai yang menghubungkan kota ke laut.

Situs ini dipilih karena terletak di atas pasang surut Teluk Siam seperti yang ada pada waktu itu, sehingga mencegah serangan kota oleh kapal perang negara lain. Lokasi tersebut juga membantu melindungi kota dari banjir musiman.

Kota itu diserang dan dihancurkan oleh tentara Burma pada tahun 1767 yang membakar kota itu hingga rata dengan tanah dan memaksa penduduknya untuk meninggalkan kota itu.

Kota ini tidak pernah dibangun kembali di lokasi yang sama dan sampai sekarang tetap dikenal sebagai situs arkeologi yang luas.

Saat ini, terletak di Distrik Phra Nakhon Si Ayutthaya, Provinsi Phra Nakhon Si Ayutthaya, Thailand. Luas total properti warisan dunia adalah 289 hektar. (*)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: reportase