Masa Kejayaan Prabu Siliwangi di Kerajaan Pajajaran, Bertakhta di Usia 81 Tahun

Masa Kejayaan Prabu Siliwangi di Kerajaan Pajajaran, Bertakhta di Usia 81 Tahun

Macan Lodaya yang kerap diidentikan dengan Prabu Siliwangi. -Ist/tangkapan layar-radarcirebon.com

BACA JUGA:Kisah Riri Aprilia Diduga Dianiaya Oknum Polwan Brigadr Ir, Gara-gara Urusan Asmara

Atau dalam masa kini, jalan tersebut menghubungkan daerah Ciamis sampai ke Bogor. Melalui Talaga, Majalengka, Sumedang, Subang, Karawang, hingga ke Bogor. 

Berdasarkan tahun kelahiran Prabu Jayadewata, atau Prabu Siliwangi di Kawali yang tercatat pada 1401, maka Sri Baduga Maharaja menjadi Raja Pajajaran di umur 81 tahun. 

Sebab, Sri Baduga Maharaja baru dinobatkan menjadi Raja Pajajaran pada tahun 1482 M dan menjabat sampai dengan 1521 M. Disadur dari Buku Hitam Putih Pajajaran, disebutkan bahwa Sri Baduga Maharaja dinobatkan dua kali menjadi raja.

Yang pertama ketika menjadi raja di Kerajaan Galuh, Kawali, Ciamis. Menggantikan ayahnya Prabu Dewa Niskala. Sedangkan penobatan kedua terjadi pada 1482 M, ketika menerima mandat Kerajaan Sunda dari mertuanya yakni, Prabu Susuk Tunggal.

BACA JUGA:Shin Tae Yong: Lini Pertahanan Timnas Indonesia Akan Dievaluasi

Dengan penobatan ini, Prabu Siliwangi adalah satu-satunya raja yang dinobatkan dua kali dan oleh dua kerajaan. Sri Baduga Maharaja juga mendapatkan gelar Prabu Siliwangi yang merupakan asal dari dua kata yakni silih wewangi.

Menyatukan Dua Kerajaan

Di awal kepemimpinannya, Prabu Siliwangi berhasil menyatukan dua kerajaan yakni, Galuh dan Sunda.

Selanjutnya melebur menjadi Kerajaan Sunda. Di masa inilah, Sri Baduga Maharaja melakukan pemindahan ibu kota negara dari Kawali ke Pakuan Pajajaran.

BACA JUGA:Sudah 12 Tim yang Lolos Piala Dunia U-20, Berikut Nama Negaranya..

Pada saat Sri Baduga Maharaja berkuasa (1482-1521 Masehi), dilakukan rekonstruksi tata kota di Pakwan Pajajaran.

Hal ini dilakukan karena tempat ini dijadikan sebagai pusat politik untuk seluruh Tatar Sunda, yang awalnya berada di kompleks Keraton Surawisesa (Galuh Pakwan).

Demikian diungkap Lubis, Nina Herlina et al. 2003, Sejarah Tatar Sunda". Jilid I. Bandung: Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran.

Posisi Pakuan Pajajaran sebagai ibukota yang dipilih harus memiliki kelebihan dari sisi pertahanan dan keamanan yang sangat urgent.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: