Provinsi Pasundan - Bagian IV
Keraton Kanoman Cirebon.-Yuda Sanjaya-Radarcirebon.com
Oleh: Fathan Mubarak*
RADARCIREBON.COM - Berhentilah membayangkan Cirebon sebagai provinsi yang belum jadi. Ada beberapa alasan. Salah satunya karena Cirebon memang tak memerlukan nama dan wilayah baru.
Keduanya telah lekat dan saling mengisi dalam sejarahnya sendiri: pesisir, pelabuhan, keraton, perdagangan, Islam, kolonialisme, serta perjumpaan Sunda dan Jawa.
Dari unsur-unsur itu Cirebon menjadi sebuah pengalaman kebudayaan dengan ruang dan identitas yang tidak perlu direka ulang.
Di Cirebon, kalimat Robert Macfarlane dalam catatannya saat mengelilingi Inggris dan Skotlandia cukup kena: kata-kata telah berurat dalam lanskap, dan lanskap berurat dalam kata-kata.
BACA JUGA:Provinsi Pasundan Bagian I
BACA JUGA:Provinsi Pasundan - Bagian II
BACA JUGA:Provinsi Pasundan - Bagian III
Gagasan Provinsi Cirebon terlalu sibuk mengurusi peta. Seakan persoalan Cirebon berpusat pada ketiadaan batas yang tegas.
Padahal Cirebon justru menjadi menarik karena sejarahnya yang menerabas batas. Sunda dan Jawa, pesisir dan pedalaman, keraton dan pelabuhan, Islam dan warisan kebudayaan, semua bertemu, berjalin, berpilin, lalu membentuk sebuah medan budaya yang mandiri.
Provinsi baru memberi batas tegas, namun belum tentu memberi makna dan menyentuh jantung persoalan.
Cirebon, dalam seluruh kerumitannya, tidak terjelaskan hanya oleh pertemuan Sunda dan Jawa. Di dalamnya terdapat lapisan sejarah yang lebih panjang.
Satu tempat dapat menyimpan lebih dari satu ingatan, sebagaimana satu tradisi dapat membawa lebih dari satu asal-usul.
Cirebon lebih menyerupai palimpsest: sesuatu yang terus ditulisi, tapi tulisan lama tidak pernah benar-benar hilang.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

