Sekadar Tanya, Dana Swadaya Desa Rp186 Juta per Tahun dari Al Zaytun untuk Apa?

Sekadar Tanya, Dana Swadaya Desa Rp186 Juta per Tahun dari Al Zaytun untuk Apa?

Rekening Panji Gumilang diblokir demi penyelidikan TPPU.-Mahad Al Zaytun-radarcirebon.com

BACA JUGA:7 Jenis Burung Perkutut Katuranggan Pembawa Rezeki dan Keberuntungan, Nomor 7 Sangat Langka dan Paling Dicari

Itupun, lanjut dia, diberikan kepada desa. Juga tidak pernah pihak Al Zaytun menanyakan uang swadaya sebesar itu digunakan untuk apa.

“Sekalipun, jalan menuju Al Zaytun, belum pernah diperbaiki. Jadi kalau mau masuk Al Zaytun melalui pintu utara, laksana mengarungi laut China Selatan,” sindir Panji.

Potongan pidato Panji itu langsung mendapat reaksi dari para penggiat dunia maya. Bahkan akun bernama Maribel Huber dan Jhon Ibf mengunggah potongan pidato Panji Gumilang selama 6 menit itu melalui media sosial Facebook. 

Akun itu memberi keterangan yang menohok: “Hayo Bupati Indramayu minta dana swasembada desa 186 juta di luar pajak tahun 2018 sampai 2022. Padahal juga negara sudah mengucurkan dana untuk desa. Duitnya di kemanain tuh,” tulis akun tersebut.

BACA JUGA:Momen Syekh Panji Gumilang Dilepas Santri ke Jakarta untuk Pemeriksaan di Bareskrim Polri: Hanya Beberapa Jam

Ada akun bernama Ardi Panji juga turut mengungkapkan sindirannya melalui kolom komentar. “Usut,...! Dana desa kemana aja jalan di indramayu rusak parah....!”

Bahkan akun tersebut juga menguggah foto Nina Agustina, sebelum menjadi Bupati Indramayu datang ke Ponpes Al Zaytun. Nina nampak didampingi sang ayah, Dai Bahtiar, yang juga mantan Kapolri.

Panji Gumilang bukan hanya mengungkap soal PBB dan iuran swasembada desa. Dia juga menjelaskan soal tuduhan adanya hotel berbintang yang tak berizin di pondok tersebut.

“Saya mendapat laporan, jika Bupati Indramayu bercerita tentang Al Zaytun dan berbicara soal hotel,” begitu Panji Gumilang memulai pidatonya.

BACA JUGA:Ada yang Tak Mau Pindah ke Bandara Kertajati, Ungkit Lanud Sulaiman untuk Pengganti Husein Sastranegara

Sesungguhnya, kata dia, Al Zaytun tidak mempunyai hotel. Al Zaytun Hanya memiliki wisma tamu. Wisma itu diperuntukkan bagi tamu pondok dan wali santri yang akan menginap di komplek pondok tersebut. 

Maka, lanjut Panji, untuk kepentingan itu maka dibutakan wisma tamu. Wisma itu memerlukan perawatan. Maka setiap tamu yang menggunakan kamar, memberikan sodakoh 10 sak semen. Yang ketika itu harganya Rp25 ribu per sak.

“Maknanya memberikan sodakoh Rp 250 ribu. Pada tahun 1999 dan diaktifkan tahun 2000. Sampai tahun 2023 ini, tidak berubah itu sodakohya, ya Rp 250 ribu,” tegas Panji.

Panji pun menilai Bupati Indramayu belum memahami kondisi tersebut. Tetapi sudah diperbincangkan dan disiarkan di televisi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: