Hari ke-2 Main Sepeda di Malaysia, Tercerai Berai Mulai Km 10, 'Gowes Mempersatukan, Tanjakkan yang Memisahkan

Hari ke-2 Main Sepeda di Malaysia, Tercerai Berai Mulai Km 10, 'Gowes Mempersatukan, Tanjakkan yang Memisahkan

Hari kedua Main Sepeda di Malaysia, menempuh rute Ipoh di Negeri Perak menuju Cameron Highlands di Negeri Pahang. -Dokumentasi-radarcirebon.com

Walau menanjak setinggi itu, namun tingkat kemiringannya sangat bersahabat. Apalagi didukung dengan aspal yang sangat halus.

BACA JUGA: Makin Berkembang & Pro Rakyat, Holding Ultra Mikro BRI Berhasil Menaikkelaskan 1,2 Juta Nasabah

Yang perlu dicatat, matahari baru terbit sekitar pukul 07.30. Pukul 06.18 juga baru masuk salat subuh. Maka start gowes pun baru dimulai pukul 08.00. 

Di hari ke-2, praktis rombongan hanya bersama pada 10 km pertama. Saat perjalanan keluar dari Ipoh menuju Simpang Pulai. 

Begitu belok ke arah Cameron Highlands, sudah terbelah menjadi 3 pleton. Kemudian ketika mendapati tanjakan yang lumayan curam, sudah main sepeda masing-masing. 

“Sepeda mempertemukan tapi tanjakan memisahkan kita" benar-benar jadi kenyataan. 

BACA JUGA:Jawaban Shin Tae Yong Soal Bayar Denda untuk Melatih Negara Lain, Ternyata Begini

Padahal perjalanan masih jauh, tapi sudah tercerai berai. Sebab rute resminya 84 km menuju Boh Tea Centre di Sungei Palas, di kawasan Brinchang, Cameron Highlands.

Memang setelah belokan di Simpang Pulai itu, jalan mulai halus menanjak. Bermula dari halus turun, lalu makin berat menanjak. Kemudian, makin cepat turun, dan terus menerus seperti itu dengan kecenderungan naik.

Pada km 15, terdapat ramp atau bagian yang kemiringannya mencapai 9 persen. Di situlah peloton benar-benar cerai-berai, sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Kelompok cepat mulai memisahkan diri, diprovokasi oleh attack dari Asril Kurniadi Adenan, pembalap terkenal asal Malang Jawa Timur. Di belakangnya, mulai terbentuk kelompok-kelompok kecil. Termasuk yang tercecer sendiri-sendiri.

BACA JUGA:200 Ribu Petani Tebu di Jawa Barat Siap Menangkan Prabowo-Gibran

Di sepanjang jalan hingga 10 km sebelum finish,  praktis tidak ada warung. Apalagi mini market. Peserta harus mengandalkan mobil support air minum yang stand by di km 33 dan 56.

Bahkan ada yang kehabisan air, kemudian salah masuk. Disangkanya toko serba ada yang kemungkinan menjual air, ternyata bukan. Bangunan itu kata penjaganya adalah gudang buah.

Banyak pula yang salah kegirangan. Setelah jembatan ditambah terowongan panjang, ada penanda pembatas Negeri Perak dan Negeri Paham. Ditandai dengan tulisan “Selamat Datang di Cameron Higlands Pahang Darul Darul Makmur”.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: